Rabu, 05 November 2014
Dialog Diri
Sering kali memaafkan tidak lebih mudah dari mengingat dan merasakan lagi rasa sakit dan kecewa yang muncul sedemikian rupa dan tiba-tiba. Cukup banyak waktu yang harus digadaikan untuk sekedar merasa sedikit lebih baik. Dan pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas perasaan merugikan ini, belum tentu merasakan sakit yang sama dalam waktu sepanjang itu.
Bagi sebagian kita, memaafkan orang yang bahkan tidak merasa dirinya bersalah atau merugikan kita, bukan perkara mudah. Mungkin ia tak pernah menyadari kesalahannya. Mungkin juga ia hanya ingin lari dari perasaan bersalah. Lalu apa ruginya jika kita tetap pada kehormatan diri untuk memaafkannya? Hal tersulit yang masih juga saya cari jawabannya.
1 tahun, 2 tahun dan sekian tahun berlalu ternyata belum cukup untuk menghilangkan ingatan dan memori pahit yang dulu pernah membuat kita begitu lebur. Orang itu masih ada. Masih berdiri dan menghadapi takdirnya. Dan masih bisa tersenyum lebar tanpa menyadari pernah ada hati manusia yang dibuatnya kecewa.
Rasa percaya lah yang kemudian menjadi korbannya. Saya masih bertanya-tanya, apakah manusia hanya punya satu kali waktu untuk mampu percaya? Ketika rasa itu sirna, tak mampukah ia hadir kembali tanpa mengusik sebab akibat sebelumnya. Waktu bahkan belum mampu menjawab pertanyaan saya. Tapi rasa percaya tidak muncul tiba-tiba. Sebelum ia tumbuh pun kita telah berusaha.
Saya betul-betul tidak sempurna. Mencintai adalah sebuah keberanian dan pengorbanan. Hingga untuk kesekian kalinya saya tak berani lagi berkorban.
Maka dialah waktu yang bersahabat dengan mulianya rasa ikhlas. Ketika keduanya bertemu, maka kita telah mampu menyerahkan segala perasaan mengganggu ini kepada Nya. Sang Maha pemilik hati setiap manusia. Di satu titik, pada hal-hal di luar kuasa saya, kekhawatiran dan rasa kecewa ini akan sembuh dengan izin-Nya.
Amin.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Berhenti di Kamu
Tiap aku mendengar suara kamu
Rasanya mau bilang iya
Maafkan kamu, terima kamu kembali
Aku tahu kamu sangat menyesal
Akupun juga tak sempurna
Cerita kita tiada yang bisa gantikan
Namun ada satu yang terjadi
Hatiku cinta kamu
Tapi tak bisa mau kembali lagi, ulang semua
Aku tak mau lukai kamu
Tubuhku butuh kamu
Tapi tak bisa rasa seperti dulu
Rusak sudah aku
Kalau ku ingat-ingat lagi sayang
Hatiku berhenti di kamu
Cerita kita tiada yang bisa gantikan
Namun ada satu yang terjadi
Hatiku cinta kamu tak bisa mau kembali lagi, ulang semua
Aku tak mau lukai kamu
Tubuhku butuh kamu
Tapi tak bisa rasa seperti dulu
Usai sudah aku
(Berhenti di Kamu- Anjie)
Kamis, 14 Agustus 2014
Tentang Rasa
Selasa, 15 Juli 2014
Catatan Awal Akhir
Ada yang tak bisa diungkapkan dengan tawa walau tampak sempurna.
Atau hanya sebuah air mata. Yang seperti mampu menjelaskan semuanya, namun tak satupun mampu kau pahami maknanya.
Aku pernah berada di sana. Jauh dari rasa kecewa. Hingga kamu hadir dan mengacaukan semuanya. Kalau kau pikir ini tentang cinta, aku sudah tak mampu menjelaskannya. Kalau kau pikir ini tentang rasa percaya, aku sudah bukan lagi pemilik daya. Kalau kau pikir ini tentang harga diri dan apa yang dianggap manusia begitu hakiki, aku sudah tak peduli.
Pernah berada pada masa tersulit? Aku masih mencari jawabannya.
Noor Aprilia
15 Juli 2014
Jumat, 14 Februari 2014
Dan Cinta Pun Terdiam, Dalam Bising Kata-Kata
Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, entah apa, aku lupa sebelum mengatakannya.
Ada yang ingin kubisikkan ke telingamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum angin senja menerbangkan kata-kata.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum cinta memberiku luka.
Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, ada yg ingin kubisikkan kepadamu, ada yang ingin kukatakan kepadamu, sekali saja, entah apa, aku lupa.
Mungkin, dengan diam, aku telah mengatakan segalanya, mengatakan segala yang tak ingin kukatakan kepadamu, sebelum cinta memberikan kita diam yang paling bisu.
Aku ingin diam, dalam bising kata-kata.
Aku ingin diam, untuk cinta yang tak bisa tinggal diam.
Aku ingin diam, untuk perasaan-perasaan kita yang tak bisa didiamkan kata-kata.
Dan cinta pun mendiamkan kita, dalam bising kata-kata.
Rabu, 16 Mei 2012
Sweet Traveling
![]() |
| Malang, Jawa Timur |
"Life is a journey that is only traveled once. Today's moments quickly become tomorrow's memory".
Surabaya menjadi terlihat sangaaaaaattt cantik, setelah sekian tahun dalam hidup saya habiskan di Ibu Kota. Prinsip nomaden, berburu dan meramu pun kembali saya terapkan. hehe.. Kali ini tema-nya adalah nomaden dari satu hotel ke hotel lain, satu penginapan ke penginapan lain, bahkan beberapa kost teman dan tumpangan gratis tak luput menjadi sasaran. Berburu tempat-tempat baru yang menyajikan suasana baru menjadi kegiatan yang tak pernah saya lewatkan untuk diabadikan. Meramu kulineria khas Jawa Timur yang bernuansa gurih-asin membuat saya semakin berniat bulat untuk lebih membulatkan tubuh saya :P
| Tanjung Papuma, Jember |
| Teluk Karang Asem, Gilimanuk, Bali |
![]() |
| Tugu, Yogyakarta |
Rabu, 04 April 2012
Dinamika Pasca Kuliah



Sabtu, 19 November 2011
Antara Mercy dan Taksi
Jumat, 02 September 2011
Ada yang Salah dari Sebuah Istilah "Memaafkan & Melupakan"
Kamu pasti pernah mendengar istilah, "Lebih mudah memaafkan dibanding melupakan." Saya sendiri termasuk ke dalam "golongan" wanita yang pernah menggunakan istilah tersebut hanya untuk menunjukkan betapa memaafkan adalah hal yang mudah bagi kaum wanita, namun begitu sulit untuk melupakan pengalaman kurang menyenangkan yang pernah dialami. Pada kenyataannya, saya menyadari bahwa ada yang salah dari istilah tersebut. Karena yang sebenarnya adalah, kita tidak akan benar-benar bisa memaafkan kecuali kita mampu melupakan.
Memaafkan adalah tindakan toleransi untuk sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang yang nggak akan terjadi kalau kamu nggak bisa melupakan kejadian tersebut. Menolak lupa atas sebuah kejadian yang nggak menyenangkan akan menghasilkan ‘dendam’ atau sakit hati yang tertanam dalam hubunganmu dengan orang lain dan bisa berakibat merusak hubungan kalian. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Termasuk saya. Dan lihatlah, betapa sulitnya memilih untuk melupakan sebuah kejadian tidak menyenangkan yang pernah kita alami. Pada akhirnya maaf hanya sebuah kemunafikan dan kenaifan perempuan yang dijadikan alasan untuk merasa menjadi korban.
Walaupun menurutmu kamu telah mampu memaafkan, tapi ingatan atas tindakan seseorang yang tertinggal akan menciptakan pengaruh yang menghasilkan kurangnya rasa percaya. Itu normal. Namun demi Tuhan, rasa tidak percaya adalah perasaan yang sangat menyiksa, khususnya bagi kaum wanita yang pilihan sikapnya berangkat dari perasaan yang dalam.
Pengampunanlah yang sebenarnya memiliki unsur memaafkan dan melupakan. Dan hanya bisa dicapai dengan mengerti apa yang kamu rasakan begitu juga perasaan orang yang melukai hatimu, mengungkapkan apa yang kamu rasakan (dalam porsi rasional), dan memaklumi kalau hubungan kalian lebih penting dibanding siapa yang benar atau salah dan yang terakhir menerima setulus hati permintaan maaf. Lagi-lagi dibutuhkan pemakluman-pemakluman.
Penting untuk benar-benar memahami apa yang kamu rasakan untuk bisa memaafkan dan melupakan. Saat perasaanmu tersakiti yang lumrah terjadi adalah bereaksi keras, walau kamu sadar betul bahwa sebenarnya reaksi tersebut berdampak negatif bagi hubungan kalian. Meredakan amarah atau emosi yang bergejolak sebelum memberikan maaf akan membantumu untuk melupakan. Karena jika kamu langsung memberikan maaf sebelum memiliki kesempatan untuk mengeluarkan rasa frustasi, akan sangat sulit untukmu melupakan kesalahan yang pernah dilakukan.
Satu hal lagi yang penting adalah coba mengerti perasaan orang yang telah melukai hatimu. Coba bicarakan kenapa ia melakukan hal tersebut. Memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sisi yang berbeda akan membuatmu lebih mudah mengerti alasan hal tersebut mereka lakukan. Berikan dirimu sedikit waktu untuk mengatasi perasaanmu dan menurunkan emosi. Penting untuk menunggu sampai kamu dan dia siap untuk membahas apa yang terjadi dengan kepala dingin. Dan..ah...lagi-lagi saya masih terus belajar untuk bisa bersikap demikian. Seorang Sanguinis akan sangat kesulitan untuk menenangkan diri dan menurunkan level emosi hanya untuk sebuah pembicaraan yang solitif.
Aspek penting dalam memaafkan dan melupakan adalah menghargai hubunganmu dengan orang tersebut lebih tinggi dibanding apa yang kamu anggap benar. Kamu bisa saja benar, tapi menjadi pihak yang benar tidak akan seberharga hubungan yang kalian miliki.
Pada kenyataannya kamu nggak akan bisa benar-benar memaafkan jika kamu nggak bisa melupakan. Menolak lupa pada akhirnya menunjukkan kurangnya rasa percaya pada orang tersebut untuk tidak mengulangi hal yang sama..
Memaafkan dan melupakan adalah hal pribadi. Coba untuk memaafkan dengan dasar mengerti apa yang kamu rasakan dan dia rasakan, menurunkan emosi sebelum bereaksi, dan menghargai hubunganmu agar bisa benar-benar melupakan dan memaafkan serta menerima permintaan maaf dengan hati yang terbuka. Memang semua itu bukanlah perkara mudah, setiap kita memerlukan proses kematangan berpikir dan kemampuan mengendalikan diri. Semoga selalu ada kesempatan untuk belajar banyak hal dari sebuah kesalahan.
Rabu, 27 April 2011
Memasak adalah Pilihan, Bukan Kodrat Perempuan
Seorang Ibu berkomentar ringan di sela perbincangannya bersama beberapa Ibu rumah tangga lainnya pagi itu. Hanya saya dan tukang sayur yang menutup mulut dan sibuk mencari bumbu dapur yang saya butuhkan. Tidak terlalu lama saya berada di sekitar Ibu-Ibu yang menghabiskan setidaknya 1 jam untuk membicarakan ini itu, begini-begitu, si ini si itu. Saya pun bergegas pulang dan membawa semua kebutuhan untuk masak pagi itu. Komentar seorang ibu tadi cukup menyita perhatian saya. Sambil berjalan santai saya hanya tersenyum dan mulai memikirkan hal itu di kepala.
Ada apa dengan perempuan dan memasak?
Saya suka memasak. Bukan karena saya perempuan. Sekalipun saya dilahirkan sebagai laki-laki, saya tetap akan beranggapan demikian. Walaupun memang memasak bukan menjadi hobi saya seperti halnya menulis atau bercuap-cuap di depan microphone (siaran radio). Bagi saya, memasak adalah kegiatan yang menyenangkan, seni malahan. Bukan apa-apa, karena dapat membuat perut kenyang :) Banyak kegiatan yang menghabiskan tenaga & pikiran, hingga pada akhirnya membuat kita lapar. Namun berbeda halnya dengan memasak, aktivitas yang membuat perut kenyang, siapa pula yang tidak senang?
Coba perhatikan kalimat yang diungkapkan seorang ibu yang saya temui pagi itu, saya pikir, ada tiga ide yang menurut saya terlalu picik. "perempuan itu harus bisa masak" bagaimana dengan perempuan yang tidak suka masak? apakah mereka tidak layak disebut sebagai perempuan? "kalo ngga, suaminya bisa kabur" macam mana pula itu!?*logatbatak. Kalaupun ada seorang laki-laki (suami) yang bersikap demikian, saya yakin bukan semata-mata karena sang istri tidak bisa masak.
"yaah..memang sudah kodratnya begitu.."
menurut saya, memasak bukanlah kodrat perempuan. Memasak, mencuci, mengurus anak, adalah pekerjaan yang bisa saja dilakukan baik perempuan maupun laki-laki. Kodrat perempuan itu memang ada, ia punya rahim sehingga bisa menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Namun untuk hal-hal lain seperti mengasuh anak, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah itu bukanlah kodrat. Budaya yang memilah-milah pekerjaan menjadi pekerjaan perempuan dan pekerjaan laki-laki. Di era modern ini, sudah sepantasnya perempuan dan laki-laki saling bekerjasama baik dalam relasi suami-istri, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat. Tidak terbatas maupun merasa dibatasi oleh gender.
Sembari mengupas bawang, menyiangi bahan-bahan, dan merebus air, saya masih terus berpikir. Pertanyaan-pertanyaan di kepala muncul dan berusaha saya jawab sendiri. Memang, tidak dapat dipungkiri, ada kepuasan tersendiri ketika seorang perempuan bisa memasak. Bahkan, hal itu tidak jarang menjadi nilai tambah di mata kaum adam. Yaa.. maka dari itu, menurut saya memasak adalah sebuah pilihan. Bukan kodrat perempuan. Bukan pula hanya menjadi nilai tambah bagi perempuan di mata kaum adam. Apabila seorang laki-laki bisa memasak, itupun menjadi nilai tambah di mata kaum hawa. Bukankah demikian? :)
Tanpa terasa, satu setengah jam sudah saya menghabiskan waktu di dapur. Pilihan saya hari itu adalah memasak sayur asem, sambal goreng, mendoan dan perkedel jagung. Nyamm..nyamm.. terbukti sudah, memasak memang kegiatan yang menyenangkan, tidak hanya bagi kaum perempuan, laki-laki pun demikian. Setidaknya perut kenyang, hati senang :)
Selamat Makaaannnn :P
Rabu, 20 April 2011
Batching Plant Visit & Gadis "Jenius!"
Saya selalu semangat dalam setiap kesempatan yang memberikan pengalaman baru. Cerita ini terjadi ketika saya masih melakukan magang di departemen Brand Support & Compliance PT Holcim Indonesia. Cerita yang tidak akan pernah saya lupakan, karena....merupakan salah satu bukti kebuodohan saya di antara kebodohan-kebodohan lainnya. :)
oh..ya..sebelum jauh bercerita, saya ingin memperkenalkan seorang wanita cerdas, berjiwa muda, yang selalu ceria, semangat, dan selalu memekikkan istilah "Markisol" Mari Kita Sholat) di saat tiba waktu Sholat di kantor :) Namanya Mba Lisna, ya.. saya bubuhi "Mba" supaya saya tetap nampak lebih muda. haha..Kami cukup akrab dan tidak jarang menghabiskan waktu makan siang bersama, bahkan hanya sekedar saling lempar celetukan yang berakhir dengan tawa riang di kantor.
Batching Plant Visit!
entah harus berekspresi apa saya ketika Pak Wayan (Manager sekaligus Babeh kesayangan kami) mengutus saya dan Mba Lisna (dua gadis belia nan jelita ini) untuk melakukan kunjungan ke beberapa pabrik pembuatan beton dan semen yang biasa disebut Batching Plant. Ahh..tapi bukan Ita dan Lisna namanya kalau merengek manja hanya karena takut kulitnya terbakar matahari atau wajahnya tersapu debu yang lucu-lucu itu. haissh..
"Ok, Neng! Besok kita ke Batching Plant Kuningan, terus lanjut ke Plumpang! Nah minggu depan kita ke Batching Plant Pondok Indah dan Rambutan! Okayy!
Mba Lisna memberi arahan kepada saya dengan penuh semangat membera di dada. Tujuan utama kami sebenarnya mengamati dan mengecek apakah branding Holcim di silo (tempat penampungan bahan semen) masih dalam kondisi baik ataukah perlu dilakukan repostering kembali. Minggu pertama berjalan lancar, kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertama yang berharga bagi kami. Banyak informasi dan pengetahuan baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya apalagi tentang per'semen'an) hehe..
Memasuki minggu berikutnya, tujuan kami hari itu adalah Batching Plant Hoclim yang berlokasi di Pondok Indah dan Kampung Rambutan. Kunjungan di Pondok Indah berjalan lancarr...walau cuaca sangat tidak bersahabat, karena panas terik dan debu yang membuat wajah kami hampir mirip supir truk molen semen. *.* Akhirnya menjelang sore kami memutuskan untuk mengakhiri "ekspedisi" di Batching Plant Kampung Rambutan.
Sesampainya di sana, kondisi tidak jauh berbeda. Namanya juga pabrik semen..alhasil lagi-lagi kami disambut oleh debu-debu lucu, kerikil, pasir, beton cair, dan kawan-kawannya. Helm safety dan rompi sudah kami pakai, dan kami siap beraksi kembali! :) Bertanya ke sana ke mari, mencatat ini itu, dan tidak lupa memfoto berbagai kegiatan dan peralatan yang digunakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Wajah saya terasa teballl setebal karpet india berbulu domba. @.@
Sambil sedikit bengong memerhatikan seorang operator truk molen yang sedang menyiram sebelum truk yang berisi beton cair itu diantar kepada pemesan, saya menatap air yang diguyurkan di badan truk itu seperti air terjun yang dingin & segar. Ahh...rasanya sudah tak kuasa diri ini ingin mandi dan meng'enyah'kan debu2 lucu dari tubuh saya.
"Ta! sini! ngapain di situ sendirian?!"
Teriak Mbal Lisna memecah imajinasi saya tentang air terun tadi. Melihat Mba Lisna sedang asik berbincang dengan salah satu batcher, sambil menghampirinya saya berhenti sejenak di sebuah keran air dan berniat untuk mencuci tangan. Berhubung air itu terasa begitu dingin di telapak tangan saya, sontak saja saya basuhkan air itu ke wajah saya dengan niat menyegarkan pandangan yang rasanya buram karena debu.
"MBAK! MBAK! JANGAN CUCI MUKA PAKAI AIR ITU! ITU AIR LIMBAH!!"
Suara seorang operator batching plant itu langsung membuat saya terkejut sekaligus bingung! Bagaimana bisa, air limbah keluar dari keran? dengan bodohnya saya pikir air itu air bersih dan tanpa dosa membasuhkannya di wajah saya yang manis ini. hehe..
"HUAHAHUAHUHAUAHUAHUAHAUA!!"
Tebak siapa yang tertawa sebahagia itu melihat saya mendzalimi diri saya sendiri??
YA! siapa lagi.. Mba Lisna menghampiri saya sambil menahan tawa dan tak henti-hentinya memaksa mulutnya tetap rapat, sampai suara tawanya hanya berakhir di tenggorokannya,. Ahhh SIAL!
"S O T O Y sii Lw Neng! ahahaha!"
Ejek Mba Lisna sambil terus tertawa kecil mengamati saya yang sedikit salah tingkah. Saya hanya bisa tertawa miris meratapi nasib saya hari itu. Saya masih bingung kenapa air yang keluar dari keran itu dibilang air limbah?? Ternyata, air limbah bekas mencuci Truk Molen di Batching Plant itu, didaur ulang dang dipakai lagi untuk kebutuhan mencuci truk lainnya. Bahkan, air sisa pembuatan semen atau beton cair pun didaur ulang pula!! iyeeeuh...
Untung saja wajah saya tidak berubah dan bersisik atau malah berkerikil! Ah! saya masih tidak habis pikir, saya mencuci muka dengan air limbah bahkan air itu mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kulit manusia!!! :(
Kebodohan saya hari itu fatal sekali ya...hahaha..
"JENIUS!"
Apapun itu, semua hal yang saya alami betul-betul menjadi bagian dari cerita hidup yang luar biasa. Bertemu dan mengenal orang-orang yang juga luar biasa.
Thank you ya Pak Wayan, Mba Lisna, Mba Lisa, Mba Piping, Mba Lelia, Mba dini, Mba Dika, Mba Dian, Mba Irma, Mba Nina, Mba Aps...Semuanya..atas kesempatan belajar, kesempatan membuat kesalahan dan menjadikannya pelajaran, dan segala bentuk perhatian..
Senin, 21 Februari 2011
Negeri Pelangi
Seperti manusia yang kehilangan asa..terpaku bisu di sudut waktu.
Aku sesekali termangu, menyelam dalam di lamunanku..
Bahasa tak lagi mampu menerjemahkan amarahku.
Aah...Lembayung di ufuk sedikit menenteramkan.
Cahayanya jingga di sudut daun pintu.
Adakah yang mampu berdongeng
tentang negeri pelangi yang ku mimpikan semalam?
Jika ada, kaulah teman mimpiku semalam.
Berlarilah, walau sedikit lelah..
Berlari ke arahku..
Dan ketika saat itu tiba,
kau akan mendapatiku berpeluh menanti.
Sembari sesekali menuntaskan rajutan pelangi
di wajah seorang anak laki-laki.
Sudah tahu kau ku nanti..
mengapa tak kunjung kau ketuk pintu ini.
Hanya berdiri di kejauhan dan melambaikan tangan.
Bersembunyi di balik nama agung sebuah takdir.
Berlarilah ke arahku..
Dan temaniku melanjutkan mimpiku semalam di negeri pelangi.
Nooraprilia.
Sabtu, 06 November 2010
"Hamil ?!"

Eng..Ing..Eng..!
Tenang..saya masih gadis dan belum menjanda :)
Sebuah cerita yang sudah cukup lama ingin saya ceritakan pada kalian. Kejadian ini saya alami beberapa bulan lalu. Sejak saya mulai mengisi hari-hari saya dengan kegiatan magang di sebuah perusahaan multinasional di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Masih ingat cerita saya tentang seorang Bapak dan Blackberry-nya? ya, kisah yang terakhir saya tulis beberapa bulan yang lalu adalah ketika saya akan diwawancarai untuk menentukan apakah saya akan diterima atau tidak untuk magang di perusahaan tersebut. Dan kisah di bawah ini adalah kejadian ketika saya memulai perjalanan pada hari pertama magang di perusahaan tersebut.
Pagi itu hari pertama saya magang. saya begitu bersemangat. Jumat pagi yang penuh dengan ekspektasi. Perjalanan saya menuju kantor memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Bus TransJakarta atau yang familiar disebut 'Busway' adalah satu-satunya pilihan bagi saya untuk menghindari kemacetan Ibu kota yang luar biasa. Ketika melangkahkan kaki memasuki terminal busway di Ragunan, suasana begitu riuh, padat dan wangi! yoi, wangi. Pagi itu saya berada di antara para pegawai dan karyawan yang berdandan necis, wangi dan rapi. Saya cukup tertegun dengan panjangnya antrean penumpang yang menanti kedatangan bus, dan hebatnya, hampir semua wanita mengenakan high heels. Mereka mengantre lebih dari 30 menit!
Saya sempat terdiam sejenak di antara keriuhan pagi itu. Seperti berada di dalam box kaca yang kedap suara. Lagu Taylor Swift yang menguasai telinga saya mulai dikalahkan dengan suara-suara di kepala menanggapi situasi sekitar saat itu. Saya mulai melangkahkan kaki seirama dengan langkah orang-orang yang semakin cepat.Mencari di mana saya sebaiknya berdiri dan mengantre. Sebuah pintu terbuka lebar, lengang dan dijaga oleh 2 orang petugas. Langkah saya dengan spontan menuju ke arah pintu itu. Ada yang aneh memang, karena tidak banyak orang yang mengantre di pintu tersebut.
3 meter..2 meter..1 meter..15 cm.
Sepertinya langkah saya berhenti di jarak 15cm dari tangan petugas yang tiba-tiba menghadang tubuh saya memasuki pintu itu.
"Maaf Mbak, Mbak Hamil??"
Astaga! pertayaan petugas itu membuat saya bingung sekaligus kaget. Enak aja saya dibilang hamil. Dia ngga liat apa ya, badan saya kecil begini dibilang lagi hamil. terlalu..;)
"Hamil???! Nikah aja belom"
Tandas saya dengan nada miring.
"Ini pintu untuk Ibu hamil, Mbak.."
"ooooooooooooooooo.....salah ya Mas.. kok ngga ada tulisan atau gambarnya, kalo ini pintu untuk Ibu hamil?"
Petugas itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung berjalan ke arah antrean yang benar. Antrean masih mengular. pikiran saya mulai melayang. Saya bingung kenapa petugas tadi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan saya. Apa itu salah satu bentuk servis mereka? mungkin. :)
kekeliruan saya itu, ternyata juga dialami oleh banyak orang. Bahkan seorang pria juga hampir disangka hamil oleh petugas tadi. Alamak..
Siapa yang salah? tidak ada tulisan, tanda atau bahkan gambar ibu hamil yang dipasang di depan pintu sebagai penanda. Alhasil, banyak yang keliru dan membuat bingung banyak orang. Khususnya bagi orang-orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di terminal busaway itu.
semoga pelayanan transportasi umum di ruang publik semakin ditingkatkan. :)
Selasa, 24 Agustus 2010
Pamer "Blackberry"
kejadiannya belum lama.. Tempat Kejadian Perkara (TKP) nya di Bus Trans Jakarta di tengah perjalanan saya ke suatu tempat.
Siang itu, Bus tidak terlalu padat. Saya beruntung mendapatkan bangku, memasang headset dan memulai perjalanan dengan iringan musik dari MP3 handphone saya. Tidak lama, bus berhenti di Shelter daerah Pejaten. Penumpang yang menanti di Shelter itu cukup banyak. Wajah mereka rata-rata sedikit mengkerut, alis matanya bertemu di pertengahan wajah, dan bibir mereka sedikit komat-kamit, berharap mendapatkan bangku kosong yang masih tersisa di Bus itu.
Seorang pria yang kira-kira berusia 40 tahun cukup beruntung, ia duduk tepat di sebelah saya. (Dia mendapatkan 2 keberuntungan hari itu, pertama, ia mendapatkan bangku kosong, dan kedua, dia duduk disebelah gadis cantik peranakan jawa-pontianak)^.^ Postur tubuhnya seperti Rhoma Irama, rambutnya basah dengan gel yang wanginya khas pria sejati..(hihi..agak malay melanjutkan deskripsi ini. Baiklah, karena saya orangnya ngga nanggung-nanggung, mari kita bahas lebih lanjut).
Kalau kira-kira saya harus menyapa beliau, saya akan memanggil beliau dengan sebutan "Pak" ngga mungkin "Mas" apalagi "Om"..(hehe..emangnya saya...??idih..sorry ya..hha)
Tidak lama setelah beliau duduk, tangannya mengeluarkan sebuah gadget yang saat ini dianggap update, gaul, keren, high-tech, stylish, oleh sebagian manusia di planet ini. Jemarinya sibuk mengotak atik dan membolak-balik benda itu, menggenggamnya dan mengarahkan tinggi-tinggi sejajar dengan wajahnya. Sikapnya agak berlebihan dan cukup menyita perhatian beberapa orang yang duduk dengan normal di sampingnya, termasuk sayaSaya masih pura-pura tidak memerhatikan gerak-geriknya yang mulai "over". Tidak lama, saya mulai risih dengan kelincahan tangan BELIAU memontang-mantingkan BB nya itu. mata saya pun akhirnya saya jatuhkan tepat di wajah beliau. Sedikit mengkerut dengan ekspresi "apaan si???"
ternyata, saya baru sadari, sedari tadi beliau "pecicilan" begitu karena berharap dilihat orang lain.
"Ini, temen saya BBM-in saya dari tadi ngga abis-abis ceritanya"
*saya bingung, tu Bapak kenapa ya..saya kan ngga tanya.....
Saya hanya meringis sinis menanggapi tingkahnya yang menurut saya semakin aneh. Handphone saya tipe NEXIAN yang layar kacanya sudah membelah (baca:pecah)saya sembunyikan di balik tas. Karena saya berniat mengganti lagu di playlist mp3 saya, terpaksa saya keluarkan dari dalam tas. Tiba-tiba suara Rhoma Irama KW-3 mendayu-dayu tepat di samping telinga saya..
"Lho, HPnya kok Pecah Dek? dibanting ya? Kan sayang..Itu Blackberry bukan ya? kok beda bentuknya??"
Alamak...!! Kali ini saya emosi. tapi ruang publik memaksa saya untuk tetap behave.
"Ohh..hehehe..iya Pak, pecah. Biar lebih nyeni aja" Saya sudah kehabisan kata-kata menjawab pertanyaan paling ngga penting sejagat raya itu.
"Haha..biar lebih berseni gimana toh? Kalo Saya sih sayang HP pecah gitu layarnya. Mendingan diservice..jadi bagus lagi"
Beliau menahan ketawa karena mendengar pernyataan saya tadi sambil memutar-mutar Blackberry kebanggaannya itu. Sepertinya beliau lupa dengan pertanyaannya tentang "Itu Blackberry bukan ya?"..(Baguslah..paling tidak puasa saya ngga batal karena akan tambah emosi.
Saya rasa beliau itu baru beli Blackberry dan haus apresiasi orang akan benda itu. Aduuh....saya ngga habis pikir..
Bus kami sudah melewati lebih dari 4 shelter. Yaampun..saya sampai terhipnotis dengan emosi saya sendiri menanggapi tingkah Bung Rhoma tadi. Sesampainya di Shelter berikutnya, beliau beranjak dari tempat duduknya.
"alhamdulillah..." hanya itu yang terucap dalam hati saya.
"Saya duluan ya dek, HP nya diservice aja.. mari.."
".................................................."
yah..rasanya Bapak tadi betul-betul aneh bin ajaib. Sok tau, sok oke, sok iye.
Ada apa ya dengan Blackberry??
Percaya atau tidak, hampir semua orang yang saya temui sepanjang jalan sibuk mengotak-atik Blackberry mereka. Sebuah fenomena.
Senin, 23 Agustus 2010
Cinta Segitiga (Antara Aku, "Sneakers" dan "High-heels")

"Kamu mau interview magang, kok dandanan'nya begitu Ta?"
Spontan pertanyaan itu membidik pikiran saya yang dengan polosnya merasa penampilan saya baik-baik saja. Mba Anna (rangking 1 dari 10 dosen kesayangan saya--yang ternyata baru kemarin berulang tahun--Happy birthday mba, hugs!)punya peran penting dalam karier perkuliahan dan motivasi saya. Nama beliau pun tercatat di daftar orang2 yg menjadi "inspirasiku" yang sengaja saya buatkan album khusus di facebook :)
Oke, balik lagi ke pertanyaan di atas..
Jadi, ceritanya hari ini saya akan bertemu dengan Bp.Wayan, seorang Group Brand Support & Compliance manager PT Holcim untuk melamar magang. kantornya di Kuningan-jakarta Selatan (wilayah yang khas dengan eksekutif muda, tua, lansia, dan kemacetan). namun sebelumnya, perjalanan saya hari ini dimulai dari kampus karena harus mengambil surat keterangan magang dari fakultas. Saya membayangkan hari ini cuaca akan sangat terik, maka tidak pikir panjang, saya hanya mengenakan kemeja putih, jeans, sneakers dan sedikit sentuhan feminim. Entah kenapa saya ngga mood mengenakan celana bahan atau blezzer (mengingat hari ini saya akan interview dan menginjakkan kaki di gedung pencakar langit yang penuh dengan manusia berpenampilan maksimal).
Setibanya di kampus, saya sempat menyapa Mba Anna, dan tiba-tiba pertanyaan di atas beliau lontarkan ke saya.
Saya hanya bisa menjawab..
"ha?? i...iya...mba..emang knp??salah ya??"
Mba Anna : " hmm...ganti 1000x! kamu harusnya pake celana bahan, kemeja rapi,spatu yg formal. dan ngga bolong kyk gitu"
(Well, dimana coba tempat terdekat saya bisa meminjam semua properti itu..?kalo ngga harus pulang lagi ke rumah..? oh..my..god. saya harus balik lagi ke rumah..fiuuh..okelah..)
Ojek..menjadi pilihan trasportasi paling ideal saat itu. Saya janji bertemu Bp.Wayan pukul 1 siang, sedangkan pukul 11 saya masih berkeliaran di daerah Depok dan sekitarnya. Sampai rumah, saya langsung siapkan baju super formal dan mengganti sneakers kesayangan saya dengan high-hells kebencian saya..ooh Tuhan..haruskah ini terjadi..(huhu..)
Baiklah..saya memang mau mengenakan high-heels, namun saya ngga nyaman. Kalau ngga sangat terpaksa, akan saya jauhkan sepatu kegemaran para wanita itu dari jangkauan saya. Tapi apa boleh buat,selama saya magang nyatanya lebih disarankan memakai sepatu formal yang ber'hak. (sebentar...kalo istilah 'disarankan" jadi bukan berarti tidak diperbolehkan memakai sneakers kan..?hihi..*teteup).
Maka dengan sedikit rasa ngga ikhlas saya mengenakan high-heels seharga 40ribu yang saya beli setahun lalu. Bisa ditebak, dengan harga sekian ngga akan menggaransi keselamatan dan kemulusan ^.^ kaki saya, karena alhasil kaki saya akan lecet di sana -sini. hiks.. Perjalanan saya menuju lokasi interview, saya mulai dengan optimis. Astaga....! sesampainya di halte busway, saya baru ingat kalau saya lupa membawa sandal jepit atau sejenisnya untuk menyelamatkan kaki saya sepulang dari interview.
Entah kenapa, saya merasa seperti anak kecil yang memakai sepatu Ibunya. hehe..rasanya pengen sok feminim, tapi agak maksa juga ya..
So, life must go on..apa yang terjadi, terjadilah..
Dan hal yang sangat memalukan benar-benar terjadi! Saya berusaha menyeimbangkan tubuh saya ketika menaiki Bus, namun nasib berkata lain, tiba-tiba.. BRAKKK!!
ohh..oke..kenyataannya saya terjatuh dengan posisi mempertaruhkan harga diri. Tidak pikir lama, saya langsung bangkit tanpa mengharapkan pertolongan dan belas kasihan siapapun. Maluuuuu......sekali rasanya, tapi hidup tetap berjalan, waktu tetap berputar searah jarum jam, ngga mungkin juga saya bisa menghentikan waktu dan mem-freeze- orang2 yang dengan kaget menatap saya yang sedang "asik" terjatuh di hadapan mereka. Atau semakin mustahil untuk saya tiba2 menghilang dan berada di kutub utara, hanya karena menghindari rasa malu.
30 menit kemudian, saya sampai di lokasi. Gedung pencakar langit itu seketika pula mencakar-cakar pikiran saya. Baru saja berlalu sekelompok wanita muda dengan dandanan menawan, wangi yang semriwing dan celetukan manis yang membuat mereka tertawa hingga terlihat begitu rapi behel yang memagari gigi mereka. oooh... Jakarta.
Gedung itu penuh dengan mahluk sedemikian rupawan. Mereka menyelaraskan diri dengan norma-norma dunia kerja. Ya, memang sudah semestinya begitu.
Saya cinta sneakers, tapi karena keadaan saya harus menaruh hati pada si high-heels. ahaha...norak ya analoginya...(biarin..)
Cinta segitiga antara kami membuat saya agak sinting. Saya merasa kalau saya ini orang yang setia (mungkin juga saya terapkan dalam menjalin hubungan). Kalau saya sudah cinta pada suatu hal, maka saya akan setia padanya. Contoh, saya suka ayam penyet di kantin kampus saya, dan selama berminggu-minggu setiap makan di kantin, saya setia pada si ayam yang nasibnya mengenaskan itu (baca :dipenyet):)
Dan kali ini saya sudah semester 7..di mana kawan2 saya mulai mengubah gaya berpenampilan mereka. Dari mulai pakaian, sepatu, hingga tata rias wajah. Sedangkan saya??
"Ita....ita...dari dulu kok gaya lw ngga berubah ya..model spatu juga ngga ganti-ganti?! Cewe mah dandan gitu...ke salon..ke spa..pake spatu yg ada hak nya, biar keliatan feminim"
Ucap salah seorang senior saya dengan lantangnya sambil tertawa tanpa dosa.
Memangnya kenapa sih..ada yg salah dengan gaya berpakaian saya..? ada yg merasa terganggu rasa kemanusiaan dan hak-hak nya dengan gaya berpenampilan saya?? Kenapa mereka sibuk sekali mengomentari hidup saya? yaa...saya anggap mereka peduli saja. daripada emosi. Namun semua itu menjadi disonansi kognitif bagi saya..
(Teori disonansi kognitif : sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut).
Sikap dan perilaku saya yg tidak konsisten adalah : "saya sudah semester 7 dan akan masuk ke dunia kerja, namun saya masih nyaman berpenampilan simple hanya dengan jeans, t'shirt dan spatu kets).
Saya baru ingat salah seorang musisi favorit saya, Dik Doank pernah mengungkapkan pernyataan, demikian bunyinya :
"Hidup adalah proses. Proses adalah perubahan,dan perubahan itulah yang menandakan kita hidup”
Kata-kata itulah yang akhirnya membuat saya mampu berpikir lebih luas. Karena hidup memang penuh dengan norma dan nilai-nilai. Setiap tahap dalam proses kehidupan saya akan menuntut saya untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang berlaku dan dijunjung tinggi. High-heels adalah sebuah produk dari norma-norma yang dianggap ideal oleh kalangan praktisi dan dalam dunia kerja. khususnya bagi wanita. Kalau memang saya harus melakukan perubahan yang bermanfaat, toh tidak ada salahnya.
Namun, apa yang sudah saya cintai akan tetap menjadi identitas yang tidak dapat dipisahkan dari diri saya sendiri.
Saya masih punya banyak cara untuk berpenampilan sesuai norma dunia kerja, tanpa menghilangkan jati diri dan identitas saya..:)
be your self, and be brave to make a changes..
Jumat, 06 Agustus 2010
Percayalah, Tidak selamanya saya bisa dipercaya.
Hiyaaa....sudah 2 bulan saya tidak membiarkan jemari saya menari-nari di atas keyboard laptop kesayangan saya ini, setidaknya untuk menuangkan sekelumit warna-warni kehidupan. :)Ada banyak kejadian yang terdramatisir secara alamiah di depan mata saya beberapa waktu belakangan. Salah satunya adalah ketika otak saya mulai "melemah" dan ingin lepas dari segala hal yang berbau rutinitas. Saya ingin belanja, liburan, jalan-jalan, makan-makan, atau hanya sekedar tidur-tiduran di kamar kesayangan. Rasanya saya seperti bukan manusia yang berpikir dan berpendidikan. Ingin melakukan hal-hal di luar nalar dan lepas dari norma serta aturan.
Saya yakin itu normal.
Tapi sayang, saya tidak dapat sepenuhnya merealisasikannya.
Tanggung jawab. menjadi hal yang memenuhi sebagian volume otak saya.
saya terbiasa menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Membuat sebagian program kerja dan merealisasikannya dengan modal 'sok tau' dan menghargai pengalaman baru. Mengerjakan ini itu, dengan si ini, si itu, terlalu dinamis. Hingga saya berada di suatu titik jenuh, di mana saya sama sekali tidak ingin berbuat apa-apa.
Kawan-kawan saya terlalu percaya dengan saya.
Percaya??
Tolong sementara ini kalian jangan dulu percaya pada saya. Terkadang terlalu dipercaya oleh orang lain membuat diri kita lelah. Ekspektasi di luar sana begitu tinggi dan orang-orang meletakkan standar yang tinggi pada diri kita. tapi itu bukan hal yang salah. george McDonnalds mengungkapkan "To be trusted is a greater compliment than to be loved".
Ada benarnya memang. Sebuah kehormatan dan penghargaan yang luar biasa ketika kita menjadi pribadi yang sepenuhnya dipercaya orang lain, apalagi orang banyak.
Saya bersyukur karena banyak orang yang mempercayai kemampuan saya. Bahkan saya sendiri terkadang bingung. Banyak hal baru yang belum pernah saya lakukan, hanya dengan modal percaya, orang lain memberikan tanggung jawab pada saya. Dan sejauh ini, saya berusaha melakukan sebaik mungkin demi kebahagiaan orang lain dan pengalaman berharga bagi saya.
Selama masa perkuliahan, Saya berusaha untuk menjadi "sesuatu", memiliki "sesuatu" yang dapat menjadi alasan kuat untuk membuat orang lain percaya pada saya. Saya menikmati betul hal-hal baru yang ada dihadapan saya di masa kuliah. Saya tertarik untuk terjun dan mendedikasikan diri pada organisasi intern tingkat fakultas maupun universitas. Terlibat aktif di berbagai kegiatan, dan masih banyak lagi kegiatan ekstrakulikuler yang saya geluti, Radio salah satunya. Di luar semua itu, saya tetap seorang mahasiswa yang memiliki tanggung jawab akademis. Oleh karena itu, bukan hal yang mudah untuk mengimbangkan antara prestasi akademis dan non-akademis. Semuanya perlu pengorbanan kawan..
Ada sekilas cerita yang saya alami belum lama ini. Dan kejadian itu membut saya berpikir dalam-dalam. Bahwa diri kita sendirilah yang menentukan apakah kita layak dipercaya atau tidak oleh orang-orang di sekitar kita. Kita pula yang paham betul kapasitas serta batas kemampuan diri kita. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia sudah semestinya kita amini. Sehingga orang lain tidak akan terlalu kecewa bilamana sewaktu-waktu harapan dan kepercayaan mereka tidak sesuai dengan kenyataan.
Semester 6 yang telah saya lalui dengan cukup baik meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Semester ini adalah saat ketika saya merasa begitu "jenuh" dengan rutinitas perkuliahan dan organisasi kampus. Semester ini, Indeks prestasi kumulatif (IPK) saya 3,92. turun sebanyak 0,3 poin dari semester sebelumnya yaitu 3,95. Banyak pihak yang merasa kecewa lantaran IPK saya turun. Belum lagi celetukan teman2 kuliah tentang nilai "B" yang saya dapat di beberapa mata kuliah.
"Ternyata Ita bisa juga dapet B, kirain makanannya A terus..ahaha"
Saya hanya menjawab dalam hati "Aha??...trus knapa, penting banget. gw mau dapet E juga bisa!"
yayaya...
Ada lagi..
Semester ini waktunya saya untuk magang di perusahaan yang sesuai dengan peminatan saya, yaitu komunikasi strategis. Saya memang terlambat untuk mempersiapkan tujuan tempat saya magang. Alhasil, saya sedikit kelabakan mencari tempat magang yang sesuai dan "pas" dengan minat saya.
1 perusahaan komunikasi menjadi tujuan lamaran magang saya. 1 hari, 2 hari, 3 hari...saya menunggu panggilan dan berharap diterima magang di perusahaan tersebut. Kira2 seminggu saya menunggu. Suatu pagi, saya begitu penasaran dan mulai membuka email saya, berharap ada email balasan dari pihak perusahaan tersebut.
Taraaaa.........!
YES! ada email masuk dari HRD!
saya membuka dengan tidak sabar dan sedikit komat-kamit, berdoa dengan penuh harap, isi email ini adalah kabar baik.
DASH!!!!
Permintaan maaf disampaikan oleh sang pengirim, dengan menyebutkan kalau saat ini perusahaan tersebut belum menerima peserta magang. Email itu berakhir dengan doa dan kalimat menyemangati, mungkin sang pengirim tahu kalau saya akan kecewa seperti putus dengan pacar saat mengetahui penolakan lamaran magang itu.
Well....... saya ditolak.
Saya mulai lemas. sedikit pesimis. dan kecewa.
beberapa kawan saya mengetahui hal tersebut. mereka tidak banyak berkomentar. Tapi...ada satu mahluk yang berkomentar ketika mengetahui bahwa lamaran magang saya ditolak.
"Ah, masa sih ditolak?? ITA GITU LHO?"
See...? lihat kata2 terakhir.. "Ita githu Lho..."
Ada apa dengan Itha Gitu Lho..??????
Ya...saya sudah bisa menyimpulkan simbol dibalik kalimat tersebut.
Helooo.....
Saya juga manusia. Yang berhak GAGAL. berhak belajar dari kegagalan.
Ahh..yasudahlah.
Saya masih menunggu 2 kemungkinan gagal lagi. Tapi saya selalu mencoba optimis.
Semoga salah satu dari lamaran saya diterima.
Amin. :)
Kamis, 03 Juni 2010
"Untukmu Cahayaku"
Kau… estetika dan nuansa kedamaian yang menyuluhkan awal mei nan indah
Kau… limpahkan butir-butir kilau menawan di permukaan hatiku
Kau… luapkan kesenduan yang kian memojokkan karang batinku
Kau… Lantunkan bait-bait naif retorik yang begitu heroik
Kau… Serukan lantang irama indah yang mengawali goyahnya akalku
Kau… suatu dimensi mutakhir memadati setiap beluk lekuk diriku
Kau… Segera, sematkan untaian gejolak dalam indah mimpiku
Kau… lalu, kini, kelak menyentak keriangan pada hela nafasku yang panjang
Kau… inginku, harapku, cemasku.. di atas benderangnya pelita yang kau perankan
Kau… sampai pun inginku…
Kau… tetaplah…., Pancarkan pelita indahmu mengiringi derap degup jantungku..,
Karena…
Kau… cahaya hatiku..
Ya…Sungguh kau…
Noor Aprilia Puspita Sari
-gembyeng ciptadi-
-------------------------------------------------------------------
Puisi itu begitu indah. Tak pernah terucap memang, namun saya bisa rasakan ketulusannya. Ya, puisi pertama yang pernah saya terima dari seorang pria yang pernah hadir, mengisi dan menumpahkan cat warna-warni dalam perjalanan hidup saya.
belum lama saya katakan akan menulis tentangnya. Berhubung suasana hati mendukung, sedikit saya ingin bercerita tentangnya.
Berawal dari masa transisi saya dari pelajar SMA menjadi mahasiswa, saya merasakan banyak hal yang menarik. Tentang orang-orang baru, kehidupan kampus, mahasiswa, organisasi, orasi, konsep diri, argumentasi, dan lainnya termasuk tentang dirinya.
Wajah dengan kesan lugu, menyenangkan dan menyimpan sejuta pertanyaan itu membuat saya bertanya-tanya tentang apa dan siapa dirinya. Wajahnya sangat damai, sebagaimana idealismenya dan ketertarikannya dengan musik reggae. pengetahuannya luas, rendah hati, senang bertemu orang baru, merasa bebas berada di keramaian, memiliki perspektif yang luar biasa tentang bagaimana memandang dan mengapresiasi seni, ramah, penyabar, tidak mudah meluapkan emosi dalam bentuk fisik, plegmatis, pemikir, kritis, idealis, berpendirian kuat, teguh, dan tenang.
Nyaman.
Itulah perasaan yang saya rasakan saat bersamanya. Kami melakukan banyak hal menarik yg dianggap aneh oleh banyak pasangan lainnya,memanjat pagar taman Monas yang tingginya hampir 2 meter, saling bertukar pikiran, mengkritisi banyak hal, menerapkan teori pada realita-realita sosial,mentertawakan hedonisme, dan masih banyak lagi. Kami bercerita, berdongeng tentang kehidupan dan meresapi makna-maknanya. Celetukannya, canda tawanya, senyumannya membuat saya senantiasa tersenyum.
Indah. Indah sekali kawan..percayalah.
Banyak tempat yang belum pernah saya jejaki selama ini. Ia membawa saya ke semua tempat itu. memandang penjuru Ibu Kota dengan bebas dari Monumen Nasional. Sudah hampir 15 tahun saya tinggal di Jakarta, namun sayangnya saya tidak memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menikmati tempat-tempat menariknya. Kali itu, saya begitu bahagia. Kami banyak menyambangi pertunjukan-pertunjukan teater dan musik, menikmati angin malam dan suasana Ibu Kota di malam hari. Indah....sekali.
ia seperti sahabat, kakak, ayah, dan pacar pertama saya. Caranya mencintai memang terkadang sulit dimengerti. Namun begitulah ia. Membari tanpa perlu diketahui, menyayangi dengan sikap dan perilakunya, menenangkan gundah banyak orang dengan logikanya. Ia hadir di usia saya yang ke 19. Di ulang tahun saya yang ke 19, kami belum mengikat diri satu sama lain. Ia memberikan hadiah buku yang berjudul "BE HAPPY". Ia ingin saya bahagia kawan, Ia ingin saya merasa bahagia bersamanya (atau mungkin tanpanya). Setidaknya saya mengerti, betapa ia inginkan saya untuk bahagia.

Taman Ismail Marzuki, 7 Mei 2008.
Alunan musik karya kelompok musik KUAETNIKA masih mengalun indah, ramai, meriah di hati kami, walaupun kami sudah melangkahkan kaki keluar gedung Graha Bakti Budaya menuju tempat parkir. Malam itu, pukul 23.00 WIB dan kami masih merasakan euforia pertunjukan yang sudah usai 10 menit yang lalu. Tempat parkir saat itu masih begitu padat, sumpek, riuh dengan asap knalpot motor dan penjaganya yang sok sibuk menerima pembayaran dan karcis para pengendara motor. kami memutuskan untuk duduk dan bersantai sejenak di bawah pohon tidak begitu jauh dari tempat parkir, sambil menunggu suasana lebih lengang.
Saya menari, melompat kesana kemari, berdendang sedikit berlebihan karena efek pertunjukan tadi. Ia duduk dengan tenang di trotoar jalan. Saya sibuk menendangi botol Aqua kosong yang terus mengejek saya. Setelah cukup lelah, saya kemudian duduk di sampingnya.
Diam..tenang..
Saat itu saya begitu penasaran dengan apa yg sedang ia pikirkan. Sepertinya ada beban dan masalah yang belum terselesaikan. Saya berusaha bertanya dan menawarkan bantuan. Ia hanya tersenyum.
Ia mulai bercerita. Alurnya mundur. Ia bercerita tentang selulusnya ia dari bangku SMA, sempat belajar bahasa jerman di Guthe Institute,sampai dengan ia mengenal saya.
Suasana malam semakin dingin, suara-suara motor yang tadi begitu bising kini sunyi senyap.
ceritanya begitu menarik dan sangat kronologis. (saya selalu tertarik mendengarkan ceritanya tentang apapun). Sampai tiba di suatu pernyataan ketika pertama kali hingga saat itu ia mengenal saya. kenapa ceritanya menuju pada diri saya??
mencermati ceritanya tentang saya, rasa kantuk saya lenyap perlahan. Maklum..mungkin efek narsisme saya muncul, jadi saya senang mendengar pandangan-pandangan, kesan darinya terhadap diri saya :)
Astaga..saya terbang beberapa centimeter dari tempat saya duduk!
(hehehe...)
Saya semakin gugup. Tangan mulai dingin. Pikiran berkelana tak tentu arah.
Ia katakan.. Ia nyaman dengan saya, ia merasa bahagia dan menyayangi saya?!
Dig...dig...dig....
saya tertegun. Terpaku. Hening.
(Stay Cool ita..tenang...haduh..musti berekspresi gmn ya?) kurang lebih seperti itu yang saya pikirkan di alam sadar saya.
Sekarang giliran saya bicara. Saya ceritakan semua yg saya alami. Persis seperti caranya menceritakan kronologis kehidupannya sampai dengan kami bertemu dan saling merasa nyaman.
Saya merasa ada hal aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Saya tersenyum.
Ya..saat itu yg saya ingat, hanya..
Saya tersenyum.
Saya memecah kekakuan dan kebekuan suasana di antara kami. saya rasa sudah waktunya kami beranjak pulang, karena tinggal motornya yang ada di tempat parkir. kasihan tukang parkir sudah celingak-celinguk mencari empunya motor itu.
Selama perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Saya cenderung diam dan berpikir dalam-dalam.(jujur saja saya ngantuk! :0)hehe...
Tapi saya merasa begitu bahagia..sangat bahagia. Begini ya rasanya disayangi..
Saya meneteskan air mata yang saya sendiri tak paham mengapa. Air mata itu terus menetes diluar kendali saya.
Mulai saat itu, saya menaruh harapan. Menghadapi warna lain dari hidup saya. menikmati sensasinya. 2 Tahun kami bersama. melakukan lebih banyak hal. Kami berusaha untuk memahami, menghargai satu sama lain. Dilematika mulai muncul, konflik menjadi hal yang menarik untuk dianalisa dan diselesaikan.
Indah..
Senin, 31 Mei 2010
Cahaya Malam
Saya baru menapakkan kaki di depan pintu rumah. Mengamati sekeliling seperti maling.
membuka pintu perlahan dan mendapati kakek saya yang begitu setia duduk terkantuk di singasananya.
Melepas segala atribut dan beban seharian.
merebahkan badan dan menikmati setiap otot yang tertarik perlahan.
hei.. masih jelas di kelopak mata saya bayangan seorang pria yang mengais tumpukan sampah di pertigaan tadi. mencari secercah cahaya diantara tumpukan kegelapan dan bau busuk tempat sampah. Uang adalah cahayanya malam itu.
Banyak fenomena kehidupan yang saya amati sepanjang jalan pulang tadi.
Entah mengapa saya suka suasana malam.
lampu-lampunya yang cemerlang dan berwarna-warni.
Angin malam yang menusuk namun mampu membawa pikiran melayang dan melamunkan banyak hal.
Menyaksikan waria melambai mengharapkan sambutan om-om girang.
Meresapi pengorbanan sepasang suami-istri yang belum juga mengakhiri hari ini di tempat tidur bersama anak-anaknya, demi menyambung hidup keluarga.
semua itu membuat saya berpikir dan mengamati hidup sendiri.
betapa beruntungnya saya saat ini.
Selalu ada rasa syukur yang kemudian lahir dan mendewasa di hati.
Saya suka suasana malam, karena saya dapat menyaksikan sisi lain kehidupan.
humh..sudah stengah jam lebih saya duduk bersila dan menatap layar monitor ini.
Mencoba menuangkan rasa dan asa.
saya merasa hampa malam ini. entahlah.
Rasanya enggan beranjak dan memejamkan mata.
Humh.....menghela nafas dalam-dalam dan menutup mata rasanya belum juga mampu menghapus berbagai pikiran yang menggangguku.
saya ingin nikmati malam ini.
bersama cahaya-cahayanya.
Bersama hembusan anginnya.
Bersama bulan dan bintang yang nampaknya sedang tak bersahabat.
Astaga..baru terbesit dan teringat esok pagi, kuliah manajemen periklanan telah menanti!saya harus presentasi??? huffhh...
Terserah... tak peduli.
saya sudah cukup lihai. haha...terserah...smoga saja lancar.
saya sedang tidak mau memikirkan hal-hal yang bersifat rutin.
Hal-hal yang berkiblat pada nilai dan pandangan orang lain.
saya lelah.
malam ini begitu indah..terlalu singkat untuk dibayang2i kegundahan hari esaok.
Nikmati saja..
Tak mau pedulikan kantung mata yang akan menuai celetukan2 miring kawan2 esok pagi.
T E R S E R A H.
Nikmati saja malam ini...




