Rabu, 05 November 2014

Dialog Diri


Sering kali memaafkan tidak lebih mudah dari mengingat dan merasakan lagi rasa sakit dan kecewa yang muncul sedemikian rupa dan tiba-tiba. Cukup banyak waktu yang harus digadaikan untuk sekedar merasa sedikit lebih baik. Dan pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas perasaan merugikan ini, belum tentu merasakan sakit yang sama dalam waktu sepanjang itu.

Bagi sebagian kita, memaafkan orang yang bahkan tidak merasa dirinya bersalah atau merugikan kita, bukan perkara mudah. Mungkin ia tak pernah menyadari kesalahannya. Mungkin juga ia hanya ingin lari dari perasaan bersalah. Lalu apa ruginya jika kita tetap pada kehormatan diri untuk memaafkannya? Hal tersulit yang masih juga saya cari jawabannya.

1 tahun, 2 tahun dan sekian tahun berlalu ternyata belum cukup untuk menghilangkan ingatan dan memori pahit yang dulu pernah membuat kita begitu lebur. Orang itu masih ada. Masih berdiri dan menghadapi takdirnya. Dan masih bisa tersenyum lebar tanpa menyadari pernah ada hati manusia yang dibuatnya kecewa.

Rasa percaya lah yang kemudian menjadi korbannya. Saya masih bertanya-tanya, apakah manusia hanya punya satu kali waktu untuk mampu percaya? Ketika rasa itu sirna, tak mampukah ia hadir kembali tanpa mengusik sebab akibat sebelumnya. Waktu bahkan belum mampu menjawab pertanyaan saya. Tapi rasa percaya tidak muncul tiba-tiba. Sebelum ia tumbuh pun kita telah berusaha.

Saya betul-betul tidak sempurna. Mencintai adalah sebuah keberanian dan pengorbanan. Hingga untuk kesekian kalinya saya tak berani lagi berkorban.

Maka dialah waktu yang bersahabat dengan mulianya rasa ikhlas. Ketika keduanya bertemu, maka kita telah mampu menyerahkan segala perasaan mengganggu ini kepada Nya. Sang Maha pemilik hati setiap manusia. Di satu titik, pada hal-hal di luar kuasa saya, kekhawatiran dan rasa kecewa ini akan sembuh dengan izin-Nya.

Amin.




Sabtu, 25 Oktober 2014

Berhenti di Kamu

















Tiap aku mendengar suara kamu
Rasanya mau bilang iya
Maafkan kamu, terima kamu kembali

Aku tahu kamu sangat menyesal
Akupun juga tak sempurna
Cerita kita tiada yang bisa gantikan

Namun ada satu yang terjadi
Hatiku cinta kamu
Tapi tak bisa mau kembali lagi, ulang semua
Aku tak mau lukai kamu

Tubuhku butuh kamu
Tapi tak bisa rasa seperti dulu
Rusak sudah aku

Kalau ku ingat-ingat lagi sayang
Hatiku berhenti di kamu
Cerita kita tiada yang bisa gantikan

Namun ada satu yang terjadi
Hatiku cinta kamu tak bisa mau kembali lagi, ulang semua
Aku tak mau lukai kamu

Tubuhku butuh kamu
Tapi tak bisa rasa seperti dulu
Usai sudah aku

(Berhenti di Kamu- Anjie)

Kamis, 14 Agustus 2014

Tentang Rasa

Sore ini, wajah kota pahlawan sudah cukup sendu. Sedikit mendung dan jalanan mulai dipenuhi kendaraan & hiruk pikuk para pekerja di jam pulang kantor yang hampir mirip ramainya seperti di ibu kota. 

Pukul 5 sore.
Saya masih menyandarkan tubuh dan pikiran di sini, di kantor tempat saya bekerja. Pikiran sudah tidak lagi saya letakkan di beberapa pekerjaan yg sebenarnya masih belum selesai. Karena tiba-tiba saya merasa terganggu dengan pikiran yang muncul lagi tanpa permisi. 

Sering begini. Ya, saya sering merasa seperti ini. Entah perasaan apa, tapi selalu membuat saya tidak nyaman. Berada jauh dari orang-orang yang kamu kasihi, entah itu keluarga, sahabat, teman-teman seperjuangan memang akan sangat membuat kita berjuang lebih keras menghadapi setiap harinya dengan kesadaran penuh bahwa tidak setiap saat undangan makan atau minum cantik sambil ngobrol sana sini bisa dengan mudah diwujudkan. Ah, rasanya bukan hanya perasaan itu yg membuat saya menahan diri untuk pulang ke kost saat ini. 

Masih ada satu rasa dalam diri saya yang masih entah di mana dan belum juga kembali. adalah rasa percaya. Entah menghilang kemana. Sesulit itu menemukannya kembali dan meletakkannya di hati & pikiran saya dengan damai. Semoga saya berhasil menemukannya kembali. Jika tidak, saya tetap akan menumbuhkannya lagi. 

Pulang dulu ah..
*shutdown*

Surabaya, 14 Agustus 2014
Noor Aprilia Puspitasari


Selasa, 15 Juli 2014

Catatan Awal Akhir

Ada yang tak pernah mampu dijelaskan oleh kata, kata kita.
Ada yang tak bisa diungkapkan dengan tawa walau tampak sempurna.
Atau hanya sebuah air mata. Yang seperti mampu menjelaskan semuanya, namun tak satupun mampu kau pahami maknanya.

Aku pernah berada di sana. Jauh dari rasa kecewa. Hingga kamu hadir dan mengacaukan semuanya. Kalau kau pikir ini tentang cinta, aku sudah tak mampu menjelaskannya. Kalau kau pikir ini tentang rasa percaya, aku sudah bukan lagi pemilik daya. Kalau kau pikir ini tentang harga diri dan apa yang dianggap manusia begitu hakiki, aku sudah tak peduli.

 Pernah berada pada masa tersulit? Aku masih mencari jawabannya.

Noor Aprilia
15 Juli 2014
























Jumat, 14 Februari 2014

Dan Cinta Pun Terdiam, Dalam Bising Kata-Kata

(pemetikluka.wordpress.com)

Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, entah apa, aku lupa sebelum mengatakannya.
Ada yang ingin kubisikkan ke telingamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum angin senja menerbangkan kata-kata.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum cinta memberiku luka.
Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, ada yg ingin kubisikkan kepadamu, ada yang ingin kukatakan kepadamu, sekali saja, entah apa, aku lupa.
Mungkin, dengan diam, aku telah mengatakan segalanya, mengatakan segala yang tak ingin kukatakan kepadamu, sebelum cinta memberikan kita diam yang paling bisu.
Aku ingin diam, dalam bising kata-kata.
Aku ingin diam, untuk cinta yang tak bisa tinggal diam.
Aku ingin diam, untuk perasaan-perasaan kita yang tak bisa didiamkan kata-kata.
Dan cinta pun mendiamkan kita, dalam bising kata-kata.

Rabu, 16 Mei 2012

Sweet Traveling

Malang, Jawa Timur

"Life is a journey that is only traveled once. Today's moments quickly become tomorrow's memory". 

Kata-kata itu membawa pikiran dan tubuh saya melampaui batas perjalanan yang pernah saya tempuh dalam hidup saya sejauh ini. Jika dalam dua puluh dua tahun ke belakang saya memiliki banyak waktu untuk bersama keluarga maupun orang-orang terdekat, satu tahun terakhir ini situasinya menjadi sangat berbeda. Saya tinggal dan dibesarkan oleh kakek saya yang sangat demokratis, bisa dikatakan cukup menghargai feminisme :) Walaupun saya adalah satu-satunya anak perempuan di rumah, beliau tidak pernah melarang apapun pilihan yang saya ambil. Kemanapun saya pergi, oleh siapapun, selama saya melakukannya dengan penuh tanggung jawab.  Travelling serta berbagai kegiatan yang bersentuhan dengan perjalanan dan keindahan alam menjadi salah satu konsepsi kebahagiaan bagi saya. Kakek saya pun menjadi orang yang sangat berpengaruh dan paling bertanggungjawab untuk hobi saya itu. Sejak kecil, saya sering menghabiskan waktu bersamanya, menemani ia menyetir melintasi berbagai kota, sawah, gunung, sampai pelosok desa yang membuat signal handphone saya SOS! Karena itulah perjalanan melintasi pedesaan menjadi begitu menarik bagi saya sampai dengan saat ini.

Di Belakang Kursi, Di Samping Jendela

Beberapa waktu lalu saya baru ngeh kalau akhir-akhir ini saya sedang menjalani yang namanya... perjalanan hidup alias life journey. Banyak kejadian-kejadian seru yang berhubungan dengan alam.Perjalanan kali ini benar-benar "perjalanan" dengan makna denotatif *buka KBBI hihihi.. Perjalanan tunggal saya, saya awali pada akhir tahun 2011, pada saat saya melakukan perjalanan dinas ke Surabaya, Jawa Timur. Perjalanan itu memberikan pengalaman pertama bagi saya menaiki pesawat seorang diri! hehe :) Dan hari itu saya menjadi nampak begitu bodoh.. :P

Surabaya menjadi terlihat sangaaaaaattt cantik, setelah sekian tahun dalam hidup saya habiskan di Ibu Kota.  Prinsip nomaden, berburu dan meramu pun kembali saya terapkan. hehe.. Kali ini tema-nya adalah nomaden dari satu hotel ke hotel lain, satu penginapan ke penginapan lain, bahkan beberapa kost teman dan tumpangan gratis tak luput menjadi sasaran. Berburu tempat-tempat baru yang menyajikan suasana baru menjadi kegiatan yang tak pernah saya lewatkan untuk diabadikan. Meramu kulineria khas Jawa Timur yang bernuansa gurih-asin membuat saya semakin berniat bulat untuk lebih membulatkan tubuh saya :P

Yang jelas saya sadari saat ini adalah : Tuhan sedang membolak-balikkan hidup saya..Ya, saya rasa kaimat itu tepat untuk menggambarkan isi hati dan apa yang saya alami akhir-akhir ini.


Banyak situasi yang belum pernah saya alami, dan mau tidak mau harus saya hadapi. Salah satunya yang terhebat efeknya bagi hati saya adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar saya dalam hitungan bulan yang terasa seperti bertahun-tahun *tsah! Berpisah dengan kakek & kedua saudara laki-laki saya juga menjadi hal yang baru saya alami belakangan ini. Efek rindunya terkadang mematikan kawan.. :)

Di setiap perjalanan, hal paling dramatis favorit saya adalah ketika saya dapat menyembunyikan diri di belakang kursi penumpang di hadapan saya, serta wajah saya tepat berada di samping jendela, hingga saya bisa meninggalkan embun di kacanya. Membiarkan pandangan saya dibawa lari oleh laju kendaraan pun menjadi sensasi tersendiri di setiap perjalanan yang saya alami. Kota Jogja, Semarang, Malang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, hingga Bali menjadi rute perjalanan saya yang ngga mungkin bisa saya lupakan begitu saja. Semua perjalanan itu menjadi kenangan manis yang pernah saya alami, rasakan, dan renungi maknanya. Jauh di luar hiruk-pikuk & ruwetnya lalu lintas, riuhnya suara klakson dan kenek bus kota, sesaknya asap bus kota, saya begitu khusyuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang damai dan menyejukkan :). Saat-saat ketika saya berbincang dan berinteraksi dengan masyarakat setempat juga menjadi moment berharga yang maknanya begitu dalam.. Tak banyak yang bisa saya ungkapkan dari setiap perjalanan itu. Saya menimbunnya dalam sebuah memori yang masih saya bebaskan quotanya :)
Tanjung Papuma, Jember


Teluk Karang Asem, Gilimanuk, Bali


Tugu, Yogyakarta

Candi Prambanan, Jawa Tengah



Malang, Jawa Timur










Rabu, 04 April 2012

Dinamika Pasca Kuliah


Sudah cukup lama saya tidak menulis sepenggal cerita bertema seperti biasanya. Banyak cerita yang nampaknya terlewat untuk diceritakan, dan hanya saya simpan di dalam memori untuk suatu saat saya buka lagi, termasuk cerita di tulisan saya kali ini.

Masa kuliah, menjadi masa terbaik & terindah bagi saya, tanpa mengurangi makna dari masa-masa yang lain dalam hidup saya. banyak dari kita yang memersepsikan berbeda. Menjalani dengan cara yg berbeda pula. Masa terbaik bagi saya adalah masa di mana saya begitu menikmati kebebasan. Kebebasan berekspresi, berargumentasi, berdialektika, bebas menentukan pilihan sikap dan peran saya.

Ya,.menjadi mahasiswa, adalah berkah terindah bagi saya. Nikmat yang sepatutnya saya syukuri sepanjang hidup saya. Melalui masa itu, saya paham betul maknanya menikmati proses. Apa yang telah saya capai, tak lepas dari peran orang-orang di sekitar saya. Dosen-dosen, sahabat, bahkan Umi penjual minuman ringan di kantin :)

Berorganisasi menjadi bagian dari sepenggal cerita saya, di kampus yg penuh intrik itu. Kemampuan berpikir logis, menghidupkan nurani dibanding naluri, pengambilan keputusan sampai strategi perang intelektual, menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Terlalu menarik kawan. ^.^




Banyak kawan saya yang bingung, berbagai aktivitas & pencapaian saya di dalam organisasi dianggap tidak memengaruhi pencapaian prestasi akademik saya. Saya pastikan, itu hanya masalah bagaimana kita menikmati proses! Tak perlu terlalu ambisius, tidak juga pesimistis. Nikmati prosesnya dengan optimis dan yakin akan kemampuan diri sendiri. Penghargaan kita terhadap diri kita menjadi bagian penting dalam pencapaian hidup kita..daan...Abracadabra....! Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya di akhir perkuliahan menembus angka 3.93,
tanpa harus berkacamata & membawa buku kesana kemari.

Penghargaan sebagai lulusan dengan prestasi akademik & organisasi terbaik di wisuda semester genap TA 2010/2011 hanyalah sebuah apresiasi dari proses yang selama ini saya lalui. Kemilau penghargaan-penghargaan itu, bagi saya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang saya nikmati selama melalui proses 4 tahun tanpa harus pusing memikirkan pencapaian & apresiasi.

Adakah hal yang lebih baik dari pada menikmati proses setiap penggal hidup kita? saya rasa itulah yang saya sebut dengan kebahagiaan (happiness). Merasa bahagia adalah merasakan hidup yang sebenar-benarnya. Saat ini. Sekarang. Now! Present! bukan nanti, bukan saat saya meraih penghargaan, bukan saat angan-angan saya memiliki bisnis yang sukses tercapai, bukan saat saya memiliki kapal pesiar, rumah mewah, mobil dua pintu, dll, tapi sekarang juga.

Momentum wisuda dengan berbagai kemegahan atribut dan simbol-simbolnya kala itu membuat saya berpikir sejenak.. bahkan saya sendiri kurang paham makna prosesi itu. Bagi saya, wisuda yang saya lalui adalah sebuah momen untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari 'kebahagiaan' saya selama ini. Selepas wisuda, saya cukup tertegun dengan segala hal di balik toga & topi berbuntut aneh itu. Kehidupan semakin banyak menyediakan warna & nuansanya masing-masing. So, what's your colour?



Memasuki dunia kerja menjadi saat-saat yang sangat menguras adrenalin. hehehe..

Rasanya seperti dilontarkan wahana Tornado ke titik paling tinggi lalu berharap menjadi slow motion moment saat dihentakkan turun ke bawah :P tapi sayangnya slow motion itu tak pernah terjadi. hahaha... *sial.. semua terjadi begitu cepat. mendebarkan. menantang. menyenangkan. Dunia baru itu tidak hadir dengan sendirinya. Kita yang menciptakan. Kita yang memutuskan. Bayangkan, ketika kalian merencanakan dan memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan ke DuFan, Ancol. Saya yakin, di sana bukan tempat yang tepat untuk bersantai & menikmati pemandangan dengan belaian angin yang lembut dan pemandangan yang cantik sejauh mata memandang! yang ada hanya teriakan cempreng di sana sini, riuhnya orang-orang menertawakan kawannya sendiri yang sedang ketakutan, dan lain sebagainya. Mereka memutuskan untuk menantang adrenalin mereka sendiri.. dan mereka Bahagia!That's the point!
:)

Saat ini saya bekerja sebagai Transformational & Technical Marketing Coordinator di sebuah perusahaan produsen semen multinasional. Berawal dari magang di divisi Brand Compliance demi memenuhi mata kuliah magang, saya meneruskan skripsi dengan tema IMC (Integrated Marketing Communications) di perusahaan tersebut. Sampai pada saat saya mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi Marketing & Innovation Trainee, dan gagal di tahap ke 8 dari 9 tahap seleksi yang ada.

Kegagalan menjadi pengalaman yang berharga bagi saya kala itu. Banyak pelajaran & pembenahan yang saya lakukan. Saya tidak berhenti. Memutuskan untuk membangun Dara Puspita Catering sebagai usaha mandiri menjadi keputusan yang tepat saat itu. Bersama pacar saya & orang tuanya *salah satu strategi mengambil hati orang tua pacar hehe :P kami mulai merintis usaha catering tersebut. Alhamdulillah cukup banyak order & testimoni.

Di tengah-tengah keasyikan saya mengurus Catering, saya dipanggil untuk interview oleh seorang kawan yang merekomendasikan saya kepada Manager Transformational & Technical Marketing di perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Tak ada salahnya, saya mencoba datang dan menerima tawaran yang diberikan. 3 bulan pertama menjadi masa-masa terberat bagi saya. Tak jarang saya berpikir bahwa apa yang saya kerjakan bukanlah passion dan bidang saya. Bulan ke empat dan ke lima saya sudah merasa lebih tenang. Saya mulai bahagia menikmati prosesnya. Ditambah lagi, rekan-rekan kerja & atasan yang begitu mensupport saya, membuat saya paham bagaimana menikmati apapun pekerjaan yang sedang kita lakukan. All is well. Saya banyak belajar. Thank's Transformers!



Saat saya menulis tulisan saya ini, tinggal tersisa dua bulan bagi saya bersama rekan-rekan saya di divisi Tranformational. Pak Ivano, Manager yang Maximizer, Pak Dian, Danny, Kak reni, Pak Kuncoro, Om Willy, Pak Joan, Mba Gin, Pak Sandi, Mba Piping, Pak Alfizon, Kak Lisna, Pak Wayan, Aar, Maya, Ading...aaaaaahh...rasanya terlalu panjang untuk saya sebutkan satu persatu.. mereka semua telah memberikan warna baru dalam hidup saya. Terima kasih. :)

Selepas dari Transfomational, saya dipromosikan oleh Manager saya untuk "kembali ke alam" saya.hehe :) Beliau begitu mensupport saya untuk dapat mengembangkan diri di bidang yang telah saya pelajari selama duduk di bangku kuliah, yaitu Komunikasi & Branding. Divisi Brand Activation akan menjadi wahana saya selanjutnya! \^o^/


Berbuatlah sekecil-kecilnya. Daripada tidak berbuat sama sekali.
Belajarlah, dan rencanakan untuk menciptakan peluang.
Tidak hanya menjadi pengikut negeri orang.

Selamat berjuang kawan! Jangan biarkan adrenalin kalian terhenti! Terus berkarya & jadilah manusia yang bermanfaat untuk orang lain, tanpa mengorbankan kebahagiaan pribadi! :)


Jakarta, 8 April 2012
Noor Aprilia Puspitasari.


Sabtu, 19 November 2011

Antara Mercy dan Taksi

4 November 2011

Malam itu menjadi malam yang panjang dan sedikit "semprul" untuk sebuah perjalanan dinas yang seharusnya bisa nampak lebih keren.

Perjalanan dinas (business trip) saya dari Surabaya kali ini akan segera berakhir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sepanjang jalan menuju Bandara Juanda pun tidak semudah dan seindah yang saya bayangkan. Surabaya, layaknya Ibu Kota, teryata memang identik dengan realita macetnya, walaupun tidak se'laknat' Ibu Kota tujuan saya pulang kali ini.
Pukul 19.45, saya seharusnya sudah duduk manis di pesawat sambil sesekali mengamati bulu mata para pramugari yang bersliweran di kabin. Tapi itu kan idealnya...tenang..kali ini saya tidak akan menceritakan sesuatu yang ideal & normal. hehe.. kenyataannya, saya masih duduk di ruang tunggu pesawat sambil terpana menonton aksi panggung Agnes Monica di TV kecil di sudut ruang tunggu pesawat. Pemberitahuan tentang keterlambatan pesawat (delay) dari petugas bandara sudah beberapa kali terdengar dan membuat sebagian calon penumpang resah dan gelisah. Ahh..ekspektasi mereka terlalu tinggi pada pesawat belabelkan lambang negeri ini.

30 menit berlalu. Saatnya memasuki pesawat. Ritual mengamati bulu mata para pramugari pun dimulai. :) Saya suka dengan
cara berdandan para pramugari. Cukup elegan walau terkadang nampak seperti atlet angkat beban saat mereka membantu menaikkan barang & koper para penumpang ke bagasi di kabin pesawat. Yak...15 menit kemudian, pesawat pun mulai take off. Perjalanan di udara ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Kurang lebih saya sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 22.00.

Di pintu keluar terminal kedatangan bandara berharap ada yang mengangkat-angkat banner bertuliskan "Miss Noor Aprilia" haha... ternyata itu hanya khayalan (yaiyaalah! ngayal!) -__-
Ahh..bus Damri sepertinya sudah tidak bersahabat sodara-sodara. Alhasil saya agak planga-plongo di tengah keramaian. Namun, sadar ada seorang calo taksi yang memerhatikan saya dan sudah mengamati saya dari kejauhan dengan tajam seperti melihat tulang (berarti dia guk2 dong? hehehe), saya langsung berlagak sotoy mendekat ke arah keramaian orang yang sedang mengantri tiket taksi resmi.

"Mbak, pulang ke mana? 150rb aja, jauh-dekat"

(buset..dikira angkot, jauh-dekat 2 rebu!?)
Calo itu terus mendekat dan sedikit agresif menawarkan taksi pada saya. Dia terus membuntuti, bahkan saat saya mulai mendekati pintu toilet pun dia tak juga gentar & patah arang.. :P
Dari kejauhan, saya melihat kawan satu kantor saya yang sedang mengantri giliran mendapatkan taksi. Saya mendekat dan berusaha menyapanya di antara keramaian orang di sekitarnya. Saya sempat meminta saran padanya apa alternatif lain untuk pulang tanpa harus menunggu lama antrian taksi yang panjang itu, dan ia menyarankan, karena ini adalah business trip, saya berhak naik taksi executive bercat hitam yang argonya dimulai dari angka Rp15rb :)

"Mbak...kenapa mbak, kok ga mau naik taksi saya? Ga percayaaa...ga percayaaa.... ga percaya ya mba...?! ga bakal ditipu mba! takut amat..."

Wuiih...suara itu membuat darah saya langsung naik poll! Emosi pun tersulut.
Tak pelak, nada sopran saya khusus saya keluarkan untuk mahluk-mahluk yang ga sopan seperti dia!

"Woyy! Masalah lo apa mas! Terserah gw lah mau percaya sama siapa!! Mau nyari ribut lo!?"

Suara saya memang sempat menarik perhatian orang-orang di sekitar, namun 5 detik kemudian, saya bergegas sambil emosi meminta orang yang mengatur giliran taksi untuk mencarikan taksi eksekutif sesegera mungkin. Calo taksi itupun mulai menciut nyalinya. Perlahan ia hilang di keramaian,. Huh, tapi emosi saya masih belum hilang. Setelah mendapatkan tiket taksi dengan charge 8ribu rupiah, saya bergegas naik tanpa pikir panjang.

"Selamat malam.... boleh tau kita ke arah mana Mba?"
Sapa supir taksi dengan mobil Mercy nya sambil mulai menyalakan argo.
Astaga... saya baru sadar..saya naik taksi eksekutif kah??! Haduuh....Sial...gara2 calo sialan itu, saya ga sadar terbawa emosi tanpa pikir panjang, naik taksi eksekutif tanpa membawa voucher taksi dan uang di dompet yang hanya tinggal 4 lembar seratus ribuan. Tapi ya sudahlah ya... brangkaaaat...! :)

Perbincangan kecil sepanjang jalan tol pun di mulai. Dari mulai bertanya bagaimana Bapak supir taksi memulai kariernya, hingga ia menjadi supir taksi eksekutif itu. Mata saya menyisir hampir ke seluruh bagian mobil. Kursi yang luas, empuk..hihi.. dan berakhir di mesin credit card di hadapan saya.

"Alamak....mesin credit card yak... kalau sampai Cinere, kira2 bakal ngabisin berapa lembar duit gw ya??" (gumam saya dalam hati)

Mata saya tertuju ke arah argo yang sudah bertengger di angka Rp150ribu! Padahal baru 10 menit perjalanan keluar bandara menuju tol. Saya pun mulai panik... #eeaa
Berpikir......berpikir.....dan saya ha
rus bersiasat agar saya bisa melanjutkan perjalanan pulang tanpa harus bangkrut dan jadi gembel sesampainya di rumah.

Dan saya pun mulai menelpon salah satu kawan dekat saya, Asty. Kira-kira begini perbincangan aneh diantara kami di tlp malam itu.

Saya: "Halo..ty! jadi gimana ni? gw tunggu di mana, gw udah di tol ni, lewat Slipi..lw mau ketemu dmn?"
Asty: " Halo...?? ta...?? ta..? apaan si ta?? halo...? eh..ih..apaan si? lu ngomngin apaan si ta??"
Saya: "Oooh...yaudah..gw turun di halte Peninsula ya..ga peke lama ya..sip!"
Asty:"..............."

Argo saat itu sudah di angka Rp18orb dan saya semakin panik.
Akhirnya saya meminta supir taksi tersebut untuk menurunkan saya di halte depan Peninsula, Slipi dengan alasan saya akan bertemu kawan saya di sana. Perjalanan dengan taksi surga itu pun berakhir.

Setelah turun dari taksi, dan memastikan taksi itu telah menjauh dan hilang dari jarak pandang, saya langsung mencari taksi reguler bercat putih yang biasa saya tumpangi. Sambil cekikikan sendiri, saya kembali menelpon Asty dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tak pelak, asty pun tertawa tanpa henti, menyadari kelakuan saya yang konyol malam itu. Bahkan ia sempat mengira saya diculik! ahahah *maap ya asty...hihihi

Ahh....syukurlah...uang saya masih sisa 2 lembar. :)
Kejadian itu masih lekat betul di pikiran saya. Betapa dodol nya kelakuan saya malam itu. Tapi di lua semua itu, saya merasa senang karena berkesempatan untuk meenumpangi taksi eksekutif untuk pertama kalinya dalam hidup saya! hahaha... :)


Ternyata gitu toh rasanya.....ihihi.. :)



Jumat, 02 September 2011

Ada yang Salah dari Sebuah Istilah "Memaafkan & Melupakan"

Kamu pasti pernah mendengar istilah, "Lebih mudah memaafkan dibanding melupakan." Saya sendiri termasuk ke dalam "golongan" wanita yang pernah menggunakan istilah tersebut hanya untuk menunjukkan betapa memaafkan adalah hal yang mudah bagi kaum wanita, namun begitu sulit untuk melupakan pengalaman kurang menyenangkan yang pernah dialami. Pada kenyataannya, saya menyadari bahwa ada yang salah dari istilah tersebut. Karena yang sebenarnya adalah, kita tidak akan benar-benar bisa memaafkan kecuali kita mampu melupakan.

Memaafkan adalah tindakan toleransi untuk sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang yang nggak akan terjadi kalau kamu nggak bisa melupakan kejadian tersebut. Menolak lupa atas sebuah kejadian yang nggak menyenangkan akan menghasilkan ‘dendam’ atau sakit hati yang tertanam dalam hubunganmu dengan orang lain dan bisa berakibat merusak hubungan kalian. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Termasuk saya. Dan lihatlah, betapa sulitnya memilih untuk melupakan sebuah kejadian tidak menyenangkan yang pernah kita alami. Pada akhirnya maaf hanya sebuah kemunafikan dan kenaifan perempuan yang dijadikan alasan untuk merasa menjadi korban.

Walaupun menurutmu kamu telah mampu memaafkan, tapi ingatan atas tindakan seseorang yang tertinggal akan menciptakan pengaruh yang menghasilkan kurangnya rasa percaya. Itu normal. Namun demi Tuhan, rasa tidak percaya adalah perasaan yang sangat menyiksa, khususnya bagi kaum wanita yang pilihan sikapnya berangkat dari perasaan yang dalam.

Pengampunanlah yang sebenarnya memiliki unsur memaafkan dan melupakan. Dan hanya bisa dicapai dengan mengerti apa yang kamu rasakan begitu juga perasaan orang yang melukai hatimu, mengungkapkan apa yang kamu rasakan (dalam porsi rasional), dan memaklumi kalau hubungan kalian lebih penting dibanding siapa yang benar atau salah dan yang terakhir menerima setulus hati permintaan maaf. Lagi-lagi dibutuhkan pemakluman-pemakluman.

Penting untuk benar-benar memahami apa yang kamu rasakan untuk bisa memaafkan dan melupakan. Saat perasaanmu tersakiti yang lumrah terjadi adalah bereaksi keras, walau kamu sadar betul bahwa sebenarnya reaksi tersebut berdampak negatif bagi hubungan kalian. Meredakan amarah atau emosi yang bergejolak sebelum memberikan maaf akan membantumu untuk melupakan. Karena jika kamu langsung memberikan maaf sebelum memiliki kesempatan untuk mengeluarkan rasa frustasi, akan sangat sulit untukmu melupakan kesalahan yang pernah dilakukan.

Satu hal lagi yang penting adalah coba mengerti perasaan orang yang telah melukai hatimu. Coba bicarakan kenapa ia melakukan hal tersebut. Memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sisi yang berbeda akan membuatmu lebih mudah mengerti alasan hal tersebut mereka lakukan. Berikan dirimu sedikit waktu untuk mengatasi perasaanmu dan menurunkan emosi. Penting untuk menunggu sampai kamu dan dia siap untuk membahas apa yang terjadi dengan kepala dingin. Dan..ah...lagi-lagi saya masih terus belajar untuk bisa bersikap demikian. Seorang Sanguinis akan sangat kesulitan untuk menenangkan diri dan menurunkan level emosi hanya untuk sebuah pembicaraan yang solitif.

Aspek penting dalam memaafkan dan melupakan adalah menghargai hubunganmu dengan orang tersebut lebih tinggi dibanding apa yang kamu anggap benar. Kamu bisa saja benar, tapi menjadi pihak yang benar tidak akan seberharga hubungan yang kalian miliki.

Pada kenyataannya kamu nggak akan bisa benar-benar memaafkan jika kamu nggak bisa melupakan. Menolak lupa pada akhirnya menunjukkan kurangnya rasa percaya pada orang tersebut untuk tidak mengulangi hal yang sama..

Memaafkan dan melupakan adalah hal pribadi. Coba untuk memaafkan dengan dasar mengerti apa yang kamu rasakan dan dia rasakan, menurunkan emosi sebelum bereaksi, dan menghargai hubunganmu agar bisa benar-benar melupakan dan memaafkan serta menerima permintaan maaf dengan hati yang terbuka. Memang semua itu bukanlah perkara mudah, setiap kita memerlukan proses kematangan berpikir dan kemampuan mengendalikan diri. Semoga selalu ada kesempatan untuk belajar banyak hal dari sebuah kesalahan.



Rabu, 27 April 2011

Memasak adalah Pilihan, Bukan Kodrat Perempuan

"perempuan itu harus bisa masak, kalo ngga suaminya bisa kabur..yaah..memang sudah kodratnya begitu.."

Seorang Ibu berkomentar ringan di sela perbincangannya bersama beberapa Ibu rumah tangga lainnya pagi itu. Hanya saya dan tukang sayur yang menutup mulut dan sibuk mencari bumbu dapur yang saya butuhkan. Tidak terlalu lama saya berada di sekitar Ibu-Ibu yang menghabiskan setidaknya 1 jam untuk membicarakan ini itu, begini-begitu, si ini si itu. Saya pun bergegas pulang dan membawa semua kebutuhan untuk masak pagi itu. Komentar seorang ibu tadi cukup menyita perhatian saya. Sambil berjalan santai saya hanya tersenyum dan mulai memikirkan hal itu di kepala.

Ada apa dengan perempuan dan memasak?

Saya suka memasak. Bukan karena saya perempuan. Sekalipun saya dilahirkan sebagai laki-laki, saya tetap akan beranggapan demikian. Walaupun memang memasak bukan menjadi hobi saya seperti halnya menulis atau bercuap-cuap di depan microphone (siaran radio). Bagi saya, memasak adalah kegiatan yang menyenangkan, seni malahan. Bukan apa-apa, karena dapat membuat perut kenyang :) Banyak kegiatan yang menghabiskan tenaga & pikiran, hingga pada akhirnya membuat kita lapar. Namun berbeda halnya dengan memasak, aktivitas yang membuat perut kenyang, siapa pula yang tidak senang?
Coba perhatikan kalimat yang diungkapkan seorang ibu yang saya temui pagi itu, saya pikir, ada tiga ide yang menurut saya terlalu picik. "perempuan itu harus bisa masak" bagaimana dengan perempuan yang tidak suka masak? apakah mereka tidak layak disebut sebagai perempuan? "kalo ngga, suaminya bisa kabur" macam mana pula itu!?*logatbatak. Kalaupun ada seorang laki-laki (suami) yang bersikap demikian, saya yakin bukan semata-mata karena sang istri tidak bisa masak.
"yaah..memang sudah kodratnya begitu.."
menurut saya, memasak bukanlah kodrat perempuan. Memasak, mencuci, mengurus anak, adalah pekerjaan yang bisa saja dilakukan baik perempuan maupun laki-laki. Kodrat perempuan itu memang ada, ia punya rahim sehingga bisa menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Namun untuk hal-hal lain seperti mengasuh anak, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah itu bukanlah kodrat. Budaya yang memilah-milah pekerjaan menjadi pekerjaan perempuan dan pekerjaan laki-laki. Di era modern ini, sudah sepantasnya perempuan dan laki-laki saling bekerjasama baik dalam relasi suami-istri, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat. Tidak terbatas maupun merasa dibatasi oleh gender.

Sembari mengupas bawang, menyiangi bahan-bahan, dan merebus air, saya masih terus berpikir. Pertanyaan-pertanyaan di kepala muncul dan berusaha saya jawab sendiri. Memang, tidak dapat dipungkiri, ada kepuasan tersendiri ketika seorang perempuan bisa memasak. Bahkan, hal itu tidak jarang menjadi nilai tambah di mata kaum adam. Yaa.. maka dari itu, menurut saya memasak adalah sebuah pilihan. Bukan kodrat perempuan. Bukan pula hanya menjadi nilai tambah bagi perempuan di mata kaum adam. Apabila seorang laki-laki bisa memasak, itupun menjadi nilai tambah di mata kaum hawa. Bukankah demikian? :)

Tanpa terasa, satu setengah jam sudah saya menghabiskan waktu di dapur. Pilihan saya hari itu adalah memasak sayur asem, sambal goreng, mendoan dan perkedel jagung. Nyamm..nyamm.. terbukti sudah, memasak memang kegiatan yang menyenangkan, tidak hanya bagi kaum perempuan, laki-laki pun demikian. Setidaknya perut kenyang, hati senang :)

Selamat Makaaannnn :P

Rabu, 20 April 2011

Batching Plant Visit & Gadis "Jenius!"

Sperti biasanya..
Saya selalu semangat dalam setiap kesempatan yang memberikan pengalaman baru. Cerita ini terjadi ketika saya masih melakukan magang di departemen Brand Support & Compliance PT Holcim Indonesia. Cerita yang tidak akan pernah saya lupakan, karena....merupakan salah satu bukti kebuodohan saya di antara kebodohan-kebodohan lainnya. :)

oh..ya..sebelum jauh bercerita, saya ingin memperkenalkan seorang wanita cerdas, berjiwa muda, yang selalu ceria, semangat, dan selalu memekikkan istilah "Markisol" Mari Kita Sholat) di saat tiba waktu Sholat di kantor :) Namanya Mba Lisna, ya.. saya bubuhi "Mba" supaya saya tetap nampak lebih muda. haha..Kami cukup akrab dan tidak jarang menghabiskan waktu makan siang bersama, bahkan hanya sekedar saling lempar celetukan yang berakhir dengan tawa riang di kantor.

Batching Plant Visit!
entah harus berekspresi apa saya ketika Pak Wayan (Manager sekaligus Babeh kesayangan kami) mengutus saya dan Mba Lisna (dua gadis belia nan jelita ini) untuk melakukan kunjungan ke beberapa pabrik pembuatan beton dan semen yang biasa disebut Batching Plant. Ahh..tapi bukan Ita dan Lisna namanya kalau merengek manja hanya karena takut kulitnya terbakar matahari atau wajahnya tersapu debu yang lucu-lucu itu. haissh..

"Ok, Neng! Besok kita ke Batching Plant Kuningan, terus lanjut ke Plumpang! Nah minggu depan kita ke Batching Plant Pondok Indah dan Rambutan! Okayy!

Mba Lisna memberi arahan kepada saya dengan penuh semangat membera di dada. Tujuan utama kami sebenarnya mengamati dan mengecek apakah branding Holcim di silo (tempat penampungan bahan semen) masih dalam kondisi baik ataukah perlu dilakukan repostering kembali. Minggu pertama berjalan lancar, kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertama yang berharga bagi kami. Banyak informasi dan pengetahuan baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya apalagi tentang per'semen'an) hehe..

Memasuki minggu berikutnya, tujuan kami hari itu adalah Batching Plant Hoclim yang berlokasi di Pondok Indah dan Kampung Rambutan. Kunjungan di Pondok Indah berjalan lancarr...walau cuaca sangat tidak bersahabat, karena panas terik dan debu yang membuat wajah kami hampir mirip supir truk molen semen. *.* Akhirnya menjelang sore kami memutuskan untuk mengakhiri "ekspedisi" di Batching Plant Kampung Rambutan.

Sesampainya di sana, kondisi tidak jauh berbeda. Namanya juga pabrik semen..alhasil lagi-lagi kami disambut oleh debu-debu lucu, kerikil, pasir, beton cair, dan kawan-kawannya. Helm safety dan rompi sudah kami pakai, dan kami siap beraksi kembali! :) Bertanya ke sana ke mari, mencatat ini itu, dan tidak lupa memfoto berbagai kegiatan dan peralatan yang digunakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Wajah saya terasa teballl setebal karpet india berbulu domba. @.@

Sambil sedikit bengong memerhatikan seorang operator truk molen yang sedang menyiram sebelum truk yang berisi beton cair itu diantar kepada pemesan, saya menatap air yang diguyurkan di badan truk itu seperti air terjun yang dingin & segar. Ahh...rasanya sudah tak kuasa diri ini ingin mandi dan meng'enyah'kan debu2 lucu dari tubuh saya.


"Ta! sini! ngapain di situ sendirian?!"

Teriak Mbal Lisna memecah imajinasi saya tentang air terun tadi. Melihat Mba Lisna sedang asik berbincang dengan salah satu batcher, sambil menghampirinya saya berhenti sejenak di sebuah keran air dan berniat untuk mencuci tangan. Berhubung air itu terasa begitu dingin di telapak tangan saya, sontak saja saya basuhkan air itu ke wajah saya dengan niat menyegarkan pandangan yang rasanya buram karena debu.

"MBAK! MBAK! JANGAN CUCI MUKA PAKAI AIR ITU! ITU AIR LIMBAH!!"

Suara seorang operator batching plant itu langsung membuat saya terkejut sekaligus bingung! Bagaimana bisa, air limbah keluar dari keran? dengan bodohnya saya pikir air itu air bersih dan tanpa dosa membasuhkannya di wajah saya yang manis ini. hehe..

"HUAHAHUAHUHAUAHUAHUAHAUA!!"

Tebak siapa yang tertawa sebahagia itu melihat saya mendzalimi diri saya sendiri??
YA! siapa lagi.. Mba Lisna menghampiri saya sambil menahan tawa dan tak henti-hentinya memaksa mulutnya tetap rapat, sampai suara tawanya hanya berakhir di tenggorokannya,. Ahhh SIAL!



"S O T O Y sii Lw Neng! ahahaha!"
Ejek Mba Lisna sambil terus tertawa kecil mengamati saya yang sedikit salah tingkah. Saya hanya bisa tertawa miris meratapi nasib saya hari itu. Saya masih bingung kenapa air yang keluar dari keran itu dibilang air limbah?? Ternyata, air limbah bekas mencuci Truk Molen di Batching Plant itu, didaur ulang dang dipakai lagi untuk kebutuhan mencuci truk lainnya. Bahkan, air sisa pembuatan semen atau beton cair pun didaur ulang pula!! iyeeeuh...

Untung saja wajah saya tidak berubah dan bersisik atau malah berkerikil! Ah! saya masih tidak habis pikir, saya mencuci muka dengan air limbah bahkan air itu mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kulit manusia!!! :(
Kebodohan saya hari itu fatal sekali ya...hahaha..

"JENIUS!"

Apapun itu, semua hal yang saya alami betul-betul menjadi bagian dari cerita hidup yang luar biasa. Bertemu dan mengenal orang-orang yang juga luar biasa.
Thank you ya Pak Wayan, Mba Lisna, Mba Lisa, Mba Piping, Mba Lelia, Mba dini, Mba Dika, Mba Dian, Mba Irma, Mba Nina, Mba Aps...Semuanya..atas kesempatan belajar, kesempatan membuat kesalahan dan menjadikannya pelajaran, dan segala bentuk perhatian..

Senin, 21 Februari 2011

Negeri Pelangi

Ada rasa yang tak dapat diuntai dengan kata.
Seperti manusia yang kehilangan asa..terpaku bisu di sudut waktu.
Aku sesekali termangu, menyelam dalam di lamunanku..
Bahasa tak lagi mampu menerjemahkan amarahku.

Aah...Lembayung di ufuk sedikit menenteramkan.
Cahayanya jingga di sudut daun pintu.
Adakah yang mampu berdongeng
tentang negeri pelangi yang ku mimpikan semalam?
Jika ada, kaulah teman mimpiku semalam.
Berlarilah, walau sedikit lelah..
Berlari ke arahku..
Dan ketika saat itu tiba,
kau akan mendapatiku berpeluh menanti.
Sembari sesekali menuntaskan rajutan pelangi
di wajah seorang anak laki-laki.

Sudah tahu kau ku nanti..
mengapa tak kunjung kau ketuk pintu ini.
Hanya berdiri di kejauhan dan melambaikan tangan.
Bersembunyi di balik nama agung sebuah takdir.
Berlarilah ke arahku..
Dan temaniku melanjutkan mimpiku semalam di negeri pelangi.


Nooraprilia.



Sabtu, 06 November 2010

"Hamil ?!"



Eng..Ing..Eng..!
Tenang..saya masih gadis dan belum menjanda :)

Sebuah cerita yang sudah cukup lama ingin saya ceritakan pada kalian. Kejadian ini saya alami beberapa bulan lalu. Sejak saya mulai mengisi hari-hari saya dengan kegiatan magang di sebuah perusahaan multinasional di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Masih ingat cerita saya tentang seorang Bapak dan Blackberry-nya? ya, kisah yang terakhir saya tulis beberapa bulan yang lalu adalah ketika saya akan diwawancarai untuk menentukan apakah saya akan diterima atau tidak untuk magang di perusahaan tersebut. Dan kisah di bawah ini adalah kejadian ketika saya memulai perjalanan pada hari pertama magang di perusahaan tersebut.

Pagi itu hari pertama saya magang. saya begitu bersemangat. Jumat pagi yang penuh dengan ekspektasi. Perjalanan saya menuju kantor memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Bus TransJakarta atau yang familiar disebut 'Busway' adalah satu-satunya pilihan bagi saya untuk menghindari kemacetan Ibu kota yang luar biasa. Ketika melangkahkan kaki memasuki terminal busway di Ragunan, suasana begitu riuh, padat dan wangi! yoi, wangi. Pagi itu saya berada di antara para pegawai dan karyawan yang berdandan necis, wangi dan rapi. Saya cukup tertegun dengan panjangnya antrean penumpang yang menanti kedatangan bus, dan hebatnya, hampir semua wanita mengenakan high heels. Mereka mengantre lebih dari 30 menit!
Saya sempat terdiam sejenak di antara keriuhan pagi itu. Seperti berada di dalam box kaca yang kedap suara. Lagu Taylor Swift yang menguasai telinga saya mulai dikalahkan dengan suara-suara di kepala menanggapi situasi sekitar saat itu. Saya mulai melangkahkan kaki seirama dengan langkah orang-orang yang semakin cepat.Mencari di mana saya sebaiknya berdiri dan mengantre. Sebuah pintu terbuka lebar, lengang dan dijaga oleh 2 orang petugas. Langkah saya dengan spontan menuju ke arah pintu itu. Ada yang aneh memang, karena tidak banyak orang yang mengantre di pintu tersebut.

3 meter..2 meter..1 meter..15 cm.
Sepertinya langkah saya berhenti di jarak 15cm dari tangan petugas yang tiba-tiba menghadang tubuh saya memasuki pintu itu.

"Maaf Mbak, Mbak Hamil??"

Astaga! pertayaan petugas itu membuat saya bingung sekaligus kaget. Enak aja saya dibilang hamil. Dia ngga liat apa ya, badan saya kecil begini dibilang lagi hamil. terlalu..;)

"Hamil???! Nikah aja belom"

Tandas saya dengan nada miring.

"Ini pintu untuk Ibu hamil, Mbak.."

"ooooooooooooooooo.....salah ya Mas.. kok ngga ada tulisan atau gambarnya, kalo ini pintu untuk Ibu hamil?"

Petugas itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung berjalan ke arah antrean yang benar. Antrean masih mengular. pikiran saya mulai melayang. Saya bingung kenapa petugas tadi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan saya. Apa itu salah satu bentuk servis mereka? mungkin. :)

kekeliruan saya itu, ternyata juga dialami oleh banyak orang. Bahkan seorang pria juga hampir disangka hamil oleh petugas tadi. Alamak..
Siapa yang salah? tidak ada tulisan, tanda atau bahkan gambar ibu hamil yang dipasang di depan pintu sebagai penanda. Alhasil, banyak yang keliru dan membuat bingung banyak orang. Khususnya bagi orang-orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di terminal busaway itu.

semoga pelayanan transportasi umum di ruang publik semakin ditingkatkan. :)

Selasa, 24 Agustus 2010

Pamer "Blackberry"

Ada satu cerita menarik yang membuat saya tidak habis pikir..

kejadiannya belum lama.. Tempat Kejadian Perkara (TKP) nya di Bus Trans Jakarta di tengah perjalanan saya ke suatu tempat.
Siang itu, Bus tidak terlalu padat. Saya beruntung mendapatkan bangku, memasang headset dan memulai perjalanan dengan iringan musik dari MP3 handphone saya. Tidak lama, bus berhenti di Shelter daerah Pejaten. Penumpang yang menanti di Shelter itu cukup banyak. Wajah mereka rata-rata sedikit mengkerut, alis matanya bertemu di pertengahan wajah, dan bibir mereka sedikit komat-kamit, berharap mendapatkan bangku kosong yang masih tersisa di Bus itu.

Seorang pria yang kira-kira berusia 40 tahun cukup beruntung, ia duduk tepat di sebelah saya. (Dia mendapatkan 2 keberuntungan hari itu, pertama, ia mendapatkan bangku kosong, dan kedua, dia duduk disebelah gadis cantik peranakan jawa-pontianak)^.^ Postur tubuhnya seperti Rhoma Irama, rambutnya basah dengan gel yang wanginya khas pria sejati..(hihi..agak malay melanjutkan deskripsi ini. Baiklah, karena saya orangnya ngga nanggung-nanggung, mari kita bahas lebih lanjut).

Kalau kira-kira saya harus menyapa beliau, saya akan memanggil beliau dengan sebutan "Pak" ngga mungkin "Mas" apalagi "Om"..(hehe..emangnya saya...??idih..sorry ya..hha)
Tidak lama setelah beliau duduk, tangannya mengeluarkan sebuah gadget yang saat ini dianggap update, gaul, keren, high-tech, stylish, oleh sebagian manusia di planet ini. Jemarinya sibuk mengotak atik dan membolak-balik benda itu, menggenggamnya dan mengarahkan tinggi-tinggi sejajar dengan wajahnya. Sikapnya agak berlebihan dan cukup menyita perhatian beberapa orang yang duduk dengan normal di sampingnya, termasuk sayaSaya masih pura-pura tidak memerhatikan gerak-geriknya yang mulai "over". Tidak lama, saya mulai risih dengan kelincahan tangan BELIAU memontang-mantingkan BB nya itu. mata saya pun akhirnya saya jatuhkan tepat di wajah beliau. Sedikit mengkerut dengan ekspresi "apaan si???"
ternyata, saya baru sadari, sedari tadi beliau "pecicilan" begitu karena berharap dilihat orang lain.

"Ini, temen saya BBM-in saya dari tadi ngga abis-abis ceritanya"

*saya bingung, tu Bapak kenapa ya..saya kan ngga tanya.....
Saya hanya meringis sinis menanggapi tingkahnya yang menurut saya semakin aneh. Handphone saya tipe NEXIAN yang layar kacanya sudah membelah (baca:pecah)saya sembunyikan di balik tas. Karena saya berniat mengganti lagu di playlist mp3 saya, terpaksa saya keluarkan dari dalam tas. Tiba-tiba suara Rhoma Irama KW-3 mendayu-dayu tepat di samping telinga saya..

"Lho, HPnya kok Pecah Dek? dibanting ya? Kan sayang..Itu Blackberry bukan ya? kok beda bentuknya??"

Alamak...!! Kali ini saya emosi. tapi ruang publik memaksa saya untuk tetap behave.

"Ohh..hehehe..iya Pak, pecah. Biar lebih nyeni aja" Saya sudah kehabisan kata-kata menjawab pertanyaan paling ngga penting sejagat raya itu.

"Haha..biar lebih berseni gimana toh? Kalo Saya sih sayang HP pecah gitu layarnya. Mendingan diservice..jadi bagus lagi"

Beliau menahan ketawa karena mendengar pernyataan saya tadi sambil memutar-mutar Blackberry kebanggaannya itu. Sepertinya beliau lupa dengan pertanyaannya tentang "Itu Blackberry bukan ya?"..(Baguslah..paling tidak puasa saya ngga batal karena akan tambah emosi.

Saya rasa beliau itu baru beli Blackberry dan haus apresiasi orang akan benda itu. Aduuh....saya ngga habis pikir..
Bus kami sudah melewati lebih dari 4 shelter. Yaampun..saya sampai terhipnotis dengan emosi saya sendiri menanggapi tingkah Bung Rhoma tadi. Sesampainya di Shelter berikutnya, beliau beranjak dari tempat duduknya.
"alhamdulillah..." hanya itu yang terucap dalam hati saya.

"Saya duluan ya dek, HP nya diservice aja.. mari.."

".................................................."

yah..rasanya Bapak tadi betul-betul aneh bin ajaib. Sok tau, sok oke, sok iye.
Ada apa ya dengan Blackberry??
Percaya atau tidak, hampir semua orang yang saya temui sepanjang jalan sibuk mengotak-atik Blackberry mereka. Sebuah fenomena.

Senin, 23 Agustus 2010

Cinta Segitiga (Antara Aku, "Sneakers" dan "High-heels")




















"Kamu mau interview magang, kok dandanan'nya begitu Ta?"


Spontan pertanyaan itu membidik pikiran saya yang dengan polosnya merasa penampilan saya baik-baik saja. Mba Anna (rangking 1 dari 10 dosen kesayangan saya--yang ternyata baru kemarin berulang tahun--Happy birthday mba, hugs!)punya peran penting dalam karier perkuliahan dan motivasi saya. Nama beliau pun tercatat di daftar orang2 yg menjadi "inspirasiku" yang sengaja saya buatkan album khusus di facebook :)
Oke, balik lagi ke pertanyaan di atas..

Jadi, ceritanya hari ini saya akan bertemu dengan Bp.Wayan, seorang Group Brand Support & Compliance manager PT Holcim untuk melamar magang. kantornya di Kuningan-jakarta Selatan (wilayah yang khas dengan eksekutif muda, tua, lansia, dan kemacetan). namun sebelumnya, perjalanan saya hari ini dimulai dari kampus karena harus mengambil surat keterangan magang dari fakultas. Saya membayangkan hari ini cuaca akan sangat terik, maka tidak pikir panjang, saya hanya mengenakan kemeja putih, jeans, sneakers dan sedikit sentuhan feminim. Entah kenapa saya ngga mood mengenakan celana bahan atau blezzer (mengingat hari ini saya akan interview dan menginjakkan kaki di gedung pencakar langit yang penuh dengan manusia berpenampilan maksimal).
Setibanya di kampus, saya sempat menyapa Mba Anna, dan tiba-tiba pertanyaan di atas beliau lontarkan ke saya.
Saya hanya bisa menjawab..

"ha?? i...iya...mba..emang knp??salah ya??"
Mba Anna : " hmm...ganti 1000x! kamu harusnya pake celana bahan, kemeja rapi,spatu yg formal. dan ngga bolong kyk gitu"
(Well, dimana coba tempat terdekat saya bisa meminjam semua properti itu..?kalo ngga harus pulang lagi ke rumah..? oh..my..god. saya harus balik lagi ke rumah..fiuuh..okelah..)

Ojek..menjadi pilihan trasportasi paling ideal saat itu. Saya janji bertemu Bp.Wayan pukul 1 siang, sedangkan pukul 11 saya masih berkeliaran di daerah Depok dan sekitarnya. Sampai rumah, saya langsung siapkan baju super formal dan mengganti sneakers kesayangan saya dengan high-hells kebencian saya..ooh Tuhan..haruskah ini terjadi..(huhu..)
Baiklah..saya memang mau mengenakan high-heels, namun saya ngga nyaman. Kalau ngga sangat terpaksa, akan saya jauhkan sepatu kegemaran para wanita itu dari jangkauan saya. Tapi apa boleh buat,selama saya magang nyatanya lebih disarankan memakai sepatu formal yang ber'hak. (sebentar...kalo istilah 'disarankan" jadi bukan berarti tidak diperbolehkan memakai sneakers kan..?hihi..*teteup).

Maka dengan sedikit rasa ngga ikhlas saya mengenakan high-heels seharga 40ribu yang saya beli setahun lalu. Bisa ditebak, dengan harga sekian ngga akan menggaransi keselamatan dan kemulusan ^.^ kaki saya, karena alhasil kaki saya akan lecet di sana -sini. hiks.. Perjalanan saya menuju lokasi interview, saya mulai dengan optimis. Astaga....! sesampainya di halte busway, saya baru ingat kalau saya lupa membawa sandal jepit atau sejenisnya untuk menyelamatkan kaki saya sepulang dari interview.
Entah kenapa, saya merasa seperti anak kecil yang memakai sepatu Ibunya. hehe..rasanya pengen sok feminim, tapi agak maksa juga ya..
So, life must go on..apa yang terjadi, terjadilah..
Dan hal yang sangat memalukan benar-benar terjadi! Saya berusaha menyeimbangkan tubuh saya ketika menaiki Bus, namun nasib berkata lain, tiba-tiba.. BRAKKK!!
ohh..oke..kenyataannya saya terjatuh dengan posisi mempertaruhkan harga diri. Tidak pikir lama, saya langsung bangkit tanpa mengharapkan pertolongan dan belas kasihan siapapun. Maluuuuu......sekali rasanya, tapi hidup tetap berjalan, waktu tetap berputar searah jarum jam, ngga mungkin juga saya bisa menghentikan waktu dan mem-freeze- orang2 yang dengan kaget menatap saya yang sedang "asik" terjatuh di hadapan mereka. Atau semakin mustahil untuk saya tiba2 menghilang dan berada di kutub utara, hanya karena menghindari rasa malu.
30 menit kemudian, saya sampai di lokasi. Gedung pencakar langit itu seketika pula mencakar-cakar pikiran saya. Baru saja berlalu sekelompok wanita muda dengan dandanan menawan, wangi yang semriwing dan celetukan manis yang membuat mereka tertawa hingga terlihat begitu rapi behel yang memagari gigi mereka. oooh... Jakarta.
Gedung itu penuh dengan mahluk sedemikian rupawan. Mereka menyelaraskan diri dengan norma-norma dunia kerja. Ya, memang sudah semestinya begitu.

Saya cinta sneakers, tapi karena keadaan saya harus menaruh hati pada si high-heels. ahaha...norak ya analoginya...(biarin..)
Cinta segitiga antara kami membuat saya agak sinting. Saya merasa kalau saya ini orang yang setia (mungkin juga saya terapkan dalam menjalin hubungan). Kalau saya sudah cinta pada suatu hal, maka saya akan setia padanya. Contoh, saya suka ayam penyet di kantin kampus saya, dan selama berminggu-minggu setiap makan di kantin, saya setia pada si ayam yang nasibnya mengenaskan itu (baca :dipenyet):)
Dan kali ini saya sudah semester 7..di mana kawan2 saya mulai mengubah gaya berpenampilan mereka. Dari mulai pakaian, sepatu, hingga tata rias wajah. Sedangkan saya??

"Ita....ita...dari dulu kok gaya lw ngga berubah ya..model spatu juga ngga ganti-ganti?! Cewe mah dandan gitu...ke salon..ke spa..pake spatu yg ada hak nya, biar keliatan feminim"
Ucap salah seorang senior saya dengan lantangnya sambil tertawa tanpa dosa.

Memangnya kenapa sih..ada yg salah dengan gaya berpakaian saya..? ada yg merasa terganggu rasa kemanusiaan dan hak-hak nya dengan gaya berpenampilan saya?? Kenapa mereka sibuk sekali mengomentari hidup saya? yaa...saya anggap mereka peduli saja. daripada emosi. Namun semua itu menjadi disonansi kognitif bagi saya..
(Teori disonansi kognitif : sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut).
Sikap dan perilaku saya yg tidak konsisten adalah : "saya sudah semester 7 dan akan masuk ke dunia kerja, namun saya masih nyaman berpenampilan simple hanya dengan jeans, t'shirt dan spatu kets).

Saya baru ingat salah seorang musisi favorit saya, Dik Doank pernah mengungkapkan pernyataan, demikian bunyinya :
"Hidup adalah proses. Proses adalah perubahan,dan perubahan itulah yang menandakan kita hidup”

Kata-kata itulah yang akhirnya membuat saya mampu berpikir lebih luas. Karena hidup memang penuh dengan norma dan nilai-nilai. Setiap tahap dalam proses kehidupan saya akan menuntut saya untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang berlaku dan dijunjung tinggi. High-heels adalah sebuah produk dari norma-norma yang dianggap ideal oleh kalangan praktisi dan dalam dunia kerja. khususnya bagi wanita. Kalau memang saya harus melakukan perubahan yang bermanfaat, toh tidak ada salahnya.
Namun, apa yang sudah saya cintai akan tetap menjadi identitas yang tidak dapat dipisahkan dari diri saya sendiri.
Saya masih punya banyak cara untuk berpenampilan sesuai norma dunia kerja, tanpa menghilangkan jati diri dan identitas saya..:)
be your self, and be brave to make a changes..

Jumat, 06 Agustus 2010

Percayalah, Tidak selamanya saya bisa dipercaya.

Hiyaaa....sudah 2 bulan saya tidak membiarkan jemari saya menari-nari di atas keyboard laptop kesayangan saya ini, setidaknya untuk menuangkan sekelumit warna-warni kehidupan. :)
Ada banyak kejadian yang terdramatisir secara alamiah di depan mata saya beberapa waktu belakangan. Salah satunya adalah ketika otak saya mulai "melemah" dan ingin lepas dari segala hal yang berbau rutinitas. Saya ingin belanja, liburan, jalan-jalan, makan-makan, atau hanya sekedar tidur-tiduran di kamar kesayangan. Rasanya saya seperti bukan manusia yang berpikir dan berpendidikan. Ingin melakukan hal-hal di luar nalar dan lepas dari norma serta aturan.
Saya yakin itu normal.
Tapi sayang, saya tidak dapat sepenuhnya merealisasikannya.

Tanggung jawab. menjadi hal yang memenuhi sebagian volume otak saya.
saya terbiasa menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Membuat sebagian program kerja dan merealisasikannya dengan modal 'sok tau' dan menghargai pengalaman baru. Mengerjakan ini itu, dengan si ini, si itu, terlalu dinamis. Hingga saya berada di suatu titik jenuh, di mana saya sama sekali tidak ingin berbuat apa-apa.

Kawan-kawan saya terlalu percaya dengan saya.
Percaya??
Tolong sementara ini kalian jangan dulu percaya pada saya. Terkadang terlalu dipercaya oleh orang lain membuat diri kita lelah. Ekspektasi di luar sana begitu tinggi dan orang-orang meletakkan standar yang tinggi pada diri kita. tapi itu bukan hal yang salah. george McDonnalds mengungkapkan "To be trusted is a greater compliment than to be loved".
Ada benarnya memang. Sebuah kehormatan dan penghargaan yang luar biasa ketika kita menjadi pribadi yang sepenuhnya dipercaya orang lain, apalagi orang banyak.

Saya bersyukur karena banyak orang yang mempercayai kemampuan saya. Bahkan saya sendiri terkadang bingung. Banyak hal baru yang belum pernah saya lakukan, hanya dengan modal percaya, orang lain memberikan tanggung jawab pada saya. Dan sejauh ini, saya berusaha melakukan sebaik mungkin demi kebahagiaan orang lain dan pengalaman berharga bagi saya.
Selama masa perkuliahan, Saya berusaha untuk menjadi "sesuatu", memiliki "sesuatu" yang dapat menjadi alasan kuat untuk membuat orang lain percaya pada saya. Saya menikmati betul hal-hal baru yang ada dihadapan saya di masa kuliah. Saya tertarik untuk terjun dan mendedikasikan diri pada organisasi intern tingkat fakultas maupun universitas. Terlibat aktif di berbagai kegiatan, dan masih banyak lagi kegiatan ekstrakulikuler yang saya geluti, Radio salah satunya. Di luar semua itu, saya tetap seorang mahasiswa yang memiliki tanggung jawab akademis. Oleh karena itu, bukan hal yang mudah untuk mengimbangkan antara prestasi akademis dan non-akademis. Semuanya perlu pengorbanan kawan..

Ada sekilas cerita yang saya alami belum lama ini. Dan kejadian itu membut saya berpikir dalam-dalam. Bahwa diri kita sendirilah yang menentukan apakah kita layak dipercaya atau tidak oleh orang-orang di sekitar kita. Kita pula yang paham betul kapasitas serta batas kemampuan diri kita. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia sudah semestinya kita amini. Sehingga orang lain tidak akan terlalu kecewa bilamana sewaktu-waktu harapan dan kepercayaan mereka tidak sesuai dengan kenyataan.

Semester 6 yang telah saya lalui dengan cukup baik meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Semester ini adalah saat ketika saya merasa begitu "jenuh" dengan rutinitas perkuliahan dan organisasi kampus. Semester ini, Indeks prestasi kumulatif (IPK) saya 3,92. turun sebanyak 0,3 poin dari semester sebelumnya yaitu 3,95. Banyak pihak yang merasa kecewa lantaran IPK saya turun. Belum lagi celetukan teman2 kuliah tentang nilai "B" yang saya dapat di beberapa mata kuliah.
"Ternyata Ita bisa juga dapet B, kirain makanannya A terus..ahaha"
Saya hanya menjawab dalam hati "Aha??...trus knapa, penting banget. gw mau dapet E juga bisa!"

yayaya...
Ada lagi..
Semester ini waktunya saya untuk magang di perusahaan yang sesuai dengan peminatan saya, yaitu komunikasi strategis. Saya memang terlambat untuk mempersiapkan tujuan tempat saya magang. Alhasil, saya sedikit kelabakan mencari tempat magang yang sesuai dan "pas" dengan minat saya.
1 perusahaan komunikasi menjadi tujuan lamaran magang saya. 1 hari, 2 hari, 3 hari...saya menunggu panggilan dan berharap diterima magang di perusahaan tersebut. Kira2 seminggu saya menunggu. Suatu pagi, saya begitu penasaran dan mulai membuka email saya, berharap ada email balasan dari pihak perusahaan tersebut.
Taraaaa.........!
YES! ada email masuk dari HRD!
saya membuka dengan tidak sabar dan sedikit komat-kamit, berdoa dengan penuh harap, isi email ini adalah kabar baik.

DASH!!!!
Permintaan maaf disampaikan oleh sang pengirim, dengan menyebutkan kalau saat ini perusahaan tersebut belum menerima peserta magang. Email itu berakhir dengan doa dan kalimat menyemangati, mungkin sang pengirim tahu kalau saya akan kecewa seperti putus dengan pacar saat mengetahui penolakan lamaran magang itu.

Well....... saya ditolak.

Saya mulai lemas. sedikit pesimis. dan kecewa.
beberapa kawan saya mengetahui hal tersebut. mereka tidak banyak berkomentar. Tapi...ada satu mahluk yang berkomentar ketika mengetahui bahwa lamaran magang saya ditolak.
"Ah, masa sih ditolak?? ITA GITU LHO?"

See...? lihat kata2 terakhir.. "Ita githu Lho..."
Ada apa dengan Itha Gitu Lho..??????
Ya...saya sudah bisa menyimpulkan simbol dibalik kalimat tersebut.
Helooo.....
Saya juga manusia. Yang berhak GAGAL. berhak belajar dari kegagalan.
Ahh..yasudahlah.
Saya masih menunggu 2 kemungkinan gagal lagi. Tapi saya selalu mencoba optimis.
Semoga salah satu dari lamaran saya diterima.
Amin. :)

Kamis, 03 Juni 2010

"Untukmu Cahayaku"



Kau… estetika dan nuansa kedamaian yang menyuluhkan awal mei nan indah
Kau… limpahkan butir-butir kilau menawan di permukaan hatiku
Kau… luapkan kesenduan yang kian memojokkan karang batinku
Kau… Lantunkan bait-bait naif retorik yang begitu heroik
Kau… Serukan lantang irama indah yang mengawali goyahnya akalku
Kau… suatu dimensi mutakhir memadati setiap beluk lekuk diriku
Kau… Segera, sematkan untaian gejolak dalam indah mimpiku
Kau… lalu, kini, kelak menyentak keriangan pada hela nafasku yang panjang
Kau… inginku, harapku, cemasku.. di atas benderangnya pelita yang kau perankan
Kau… sampai pun inginku…
Kau… tetaplah…., Pancarkan pelita indahmu mengiringi derap degup jantungku..,
Karena…
Kau… cahaya hatiku..
Ya…Sungguh kau…
Noor Aprilia Puspita Sari

-gembyeng ciptadi-
-------------------------------------------------------------------

Puisi itu begitu indah. Tak pernah terucap memang, namun saya bisa rasakan ketulusannya. Ya, puisi pertama yang pernah saya terima dari seorang pria yang pernah hadir, mengisi dan menumpahkan cat warna-warni dalam perjalanan hidup saya.
belum lama saya katakan akan menulis tentangnya. Berhubung suasana hati mendukung, sedikit saya ingin bercerita tentangnya.

Berawal dari masa transisi saya dari pelajar SMA menjadi mahasiswa, saya merasakan banyak hal yang menarik. Tentang orang-orang baru, kehidupan kampus, mahasiswa, organisasi, orasi, konsep diri, argumentasi, dan lainnya termasuk tentang dirinya.

Wajah dengan kesan lugu, menyenangkan dan menyimpan sejuta pertanyaan itu membuat saya bertanya-tanya tentang apa dan siapa dirinya. Wajahnya sangat damai, sebagaimana idealismenya dan ketertarikannya dengan musik reggae. pengetahuannya luas, rendah hati, senang bertemu orang baru, merasa bebas berada di keramaian, memiliki perspektif yang luar biasa tentang bagaimana memandang dan mengapresiasi seni, ramah, penyabar, tidak mudah meluapkan emosi dalam bentuk fisik, plegmatis, pemikir, kritis, idealis, berpendirian kuat, teguh, dan tenang.

Nyaman.
Itulah perasaan yang saya rasakan saat bersamanya. Kami melakukan banyak hal menarik yg dianggap aneh oleh banyak pasangan lainnya,memanjat pagar taman Monas yang tingginya hampir 2 meter, saling bertukar pikiran, mengkritisi banyak hal, menerapkan teori pada realita-realita sosial,mentertawakan hedonisme, dan masih banyak lagi. Kami bercerita, berdongeng tentang kehidupan dan meresapi makna-maknanya. Celetukannya, canda tawanya, senyumannya membuat saya senantiasa tersenyum.
Indah. Indah sekali kawan..percayalah.

Banyak tempat yang belum pernah saya jejaki selama ini. Ia membawa saya ke semua tempat itu. memandang penjuru Ibu Kota dengan bebas dari Monumen Nasional. Sudah hampir 15 tahun saya tinggal di Jakarta, namun sayangnya saya tidak memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menikmati tempat-tempat menariknya. Kali itu, saya begitu bahagia. Kami banyak menyambangi pertunjukan-pertunjukan teater dan musik, menikmati angin malam dan suasana Ibu Kota di malam hari. Indah....sekali.

ia seperti sahabat, kakak, ayah, dan pacar pertama saya. Caranya mencintai memang terkadang sulit dimengerti. Namun begitulah ia. Membari tanpa perlu diketahui, menyayangi dengan sikap dan perilakunya, menenangkan gundah banyak orang dengan logikanya. Ia hadir di usia saya yang ke 19. Di ulang tahun saya yang ke 19, kami belum mengikat diri satu sama lain. Ia memberikan hadiah buku yang berjudul "BE HAPPY". Ia ingin saya bahagia kawan, Ia ingin saya merasa bahagia bersamanya (atau mungkin tanpanya). Setidaknya saya mengerti, betapa ia inginkan saya untuk bahagia.












Taman Ismail Marzuki, 7 Mei 2008.
Alunan musik karya kelompok musik KUAETNIKA masih mengalun indah, ramai, meriah di hati kami, walaupun kami sudah melangkahkan kaki keluar gedung Graha Bakti Budaya menuju tempat parkir. Malam itu, pukul 23.00 WIB dan kami masih merasakan euforia pertunjukan yang sudah usai 10 menit yang lalu. Tempat parkir saat itu masih begitu padat, sumpek, riuh dengan asap knalpot motor dan penjaganya yang sok sibuk menerima pembayaran dan karcis para pengendara motor. kami memutuskan untuk duduk dan bersantai sejenak di bawah pohon tidak begitu jauh dari tempat parkir, sambil menunggu suasana lebih lengang.
Saya menari, melompat kesana kemari, berdendang sedikit berlebihan karena efek pertunjukan tadi. Ia duduk dengan tenang di trotoar jalan. Saya sibuk menendangi botol Aqua kosong yang terus mengejek saya. Setelah cukup lelah, saya kemudian duduk di sampingnya.
Diam..tenang..

Saat itu saya begitu penasaran dengan apa yg sedang ia pikirkan. Sepertinya ada beban dan masalah yang belum terselesaikan. Saya berusaha bertanya dan menawarkan bantuan. Ia hanya tersenyum.
Ia mulai bercerita. Alurnya mundur. Ia bercerita tentang selulusnya ia dari bangku SMA, sempat belajar bahasa jerman di Guthe Institute,sampai dengan ia mengenal saya.
Suasana malam semakin dingin, suara-suara motor yang tadi begitu bising kini sunyi senyap.
ceritanya begitu menarik dan sangat kronologis. (saya selalu tertarik mendengarkan ceritanya tentang apapun). Sampai tiba di suatu pernyataan ketika pertama kali hingga saat itu ia mengenal saya. kenapa ceritanya menuju pada diri saya??
mencermati ceritanya tentang saya, rasa kantuk saya lenyap perlahan. Maklum..mungkin efek narsisme saya muncul, jadi saya senang mendengar pandangan-pandangan, kesan darinya terhadap diri saya :)
Astaga..saya terbang beberapa centimeter dari tempat saya duduk!
(hehehe...)

Saya semakin gugup. Tangan mulai dingin. Pikiran berkelana tak tentu arah.
Ia katakan.. Ia nyaman dengan saya, ia merasa bahagia dan menyayangi saya?!
Dig...dig...dig....
saya tertegun. Terpaku. Hening.
(Stay Cool ita..tenang...haduh..musti berekspresi gmn ya?) kurang lebih seperti itu yang saya pikirkan di alam sadar saya.

Sekarang giliran saya bicara. Saya ceritakan semua yg saya alami. Persis seperti caranya menceritakan kronologis kehidupannya sampai dengan kami bertemu dan saling merasa nyaman.
Saya merasa ada hal aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
Saya tersenyum.
Ya..saat itu yg saya ingat, hanya..
Saya tersenyum.

Saya memecah kekakuan dan kebekuan suasana di antara kami. saya rasa sudah waktunya kami beranjak pulang, karena tinggal motornya yang ada di tempat parkir. kasihan tukang parkir sudah celingak-celinguk mencari empunya motor itu.

Selama perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Saya cenderung diam dan berpikir dalam-dalam.(jujur saja saya ngantuk! :0)hehe...
Tapi saya merasa begitu bahagia..sangat bahagia. Begini ya rasanya disayangi..
Saya meneteskan air mata yang saya sendiri tak paham mengapa. Air mata itu terus menetes diluar kendali saya.
Mulai saat itu, saya menaruh harapan. Menghadapi warna lain dari hidup saya. menikmati sensasinya. 2 Tahun kami bersama. melakukan lebih banyak hal. Kami berusaha untuk memahami, menghargai satu sama lain. Dilematika mulai muncul, konflik menjadi hal yang menarik untuk dianalisa dan diselesaikan.
Indah..

Senin, 31 Mei 2010

Cahaya Malam

Tepat pukul 01.00 dini hari.

Saya baru menapakkan kaki di depan pintu rumah. Mengamati sekeliling seperti maling.
membuka pintu perlahan dan mendapati kakek saya yang begitu setia duduk terkantuk di singasananya.
Melepas segala atribut dan beban seharian.
merebahkan badan dan menikmati setiap otot yang tertarik perlahan.

hei.. masih jelas di kelopak mata saya bayangan seorang pria yang mengais tumpukan sampah di pertigaan tadi. mencari secercah cahaya diantara tumpukan kegelapan dan bau busuk tempat sampah. Uang adalah cahayanya malam itu.
Banyak fenomena kehidupan yang saya amati sepanjang jalan pulang tadi.

Entah mengapa saya suka suasana malam.
lampu-lampunya yang cemerlang dan berwarna-warni.
Angin malam yang menusuk namun mampu membawa pikiran melayang dan melamunkan banyak hal.
Menyaksikan waria melambai mengharapkan sambutan om-om girang.
Meresapi pengorbanan sepasang suami-istri yang belum juga mengakhiri hari ini di tempat tidur bersama anak-anaknya, demi menyambung hidup keluarga.
semua itu membuat saya berpikir dan mengamati hidup sendiri.
betapa beruntungnya saya saat ini.
Selalu ada rasa syukur yang kemudian lahir dan mendewasa di hati.
Saya suka suasana malam, karena saya dapat menyaksikan sisi lain kehidupan.

humh..sudah stengah jam lebih saya duduk bersila dan menatap layar monitor ini.
Mencoba menuangkan rasa dan asa.
saya merasa hampa malam ini. entahlah.
Rasanya enggan beranjak dan memejamkan mata.
Humh.....menghela nafas dalam-dalam dan menutup mata rasanya belum juga mampu menghapus berbagai pikiran yang menggangguku.
saya ingin nikmati malam ini.
bersama cahaya-cahayanya.
Bersama hembusan anginnya.
Bersama bulan dan bintang yang nampaknya sedang tak bersahabat.

Astaga..baru terbesit dan teringat esok pagi, kuliah manajemen periklanan telah menanti!saya harus presentasi??? huffhh...
Terserah... tak peduli.
saya sudah cukup lihai. haha...terserah...smoga saja lancar.
saya sedang tidak mau memikirkan hal-hal yang bersifat rutin.
Hal-hal yang berkiblat pada nilai dan pandangan orang lain.
saya lelah.
malam ini begitu indah..terlalu singkat untuk dibayang2i kegundahan hari esaok.
Nikmati saja..
Tak mau pedulikan kantung mata yang akan menuai celetukan2 miring kawan2 esok pagi.
T E R S E R A H.
Nikmati saja malam ini...