Kamis, 14 Agustus 2014

Tentang Rasa

Sore ini, wajah kota pahlawan sudah cukup sendu. Sedikit mendung dan jalanan mulai dipenuhi kendaraan & hiruk pikuk para pekerja di jam pulang kantor yang hampir mirip ramainya seperti di ibu kota. 

Pukul 5 sore.
Saya masih menyandarkan tubuh dan pikiran di sini, di kantor tempat saya bekerja. Pikiran sudah tidak lagi saya letakkan di beberapa pekerjaan yg sebenarnya masih belum selesai. Karena tiba-tiba saya merasa terganggu dengan pikiran yang muncul lagi tanpa permisi. 

Sering begini. Ya, saya sering merasa seperti ini. Entah perasaan apa, tapi selalu membuat saya tidak nyaman. Berada jauh dari orang-orang yang kamu kasihi, entah itu keluarga, sahabat, teman-teman seperjuangan memang akan sangat membuat kita berjuang lebih keras menghadapi setiap harinya dengan kesadaran penuh bahwa tidak setiap saat undangan makan atau minum cantik sambil ngobrol sana sini bisa dengan mudah diwujudkan. Ah, rasanya bukan hanya perasaan itu yg membuat saya menahan diri untuk pulang ke kost saat ini. 

Masih ada satu rasa dalam diri saya yang masih entah di mana dan belum juga kembali. adalah rasa percaya. Entah menghilang kemana. Sesulit itu menemukannya kembali dan meletakkannya di hati & pikiran saya dengan damai. Semoga saya berhasil menemukannya kembali. Jika tidak, saya tetap akan menumbuhkannya lagi. 

Pulang dulu ah..
*shutdown*

Surabaya, 14 Agustus 2014
Noor Aprilia Puspitasari


Selasa, 15 Juli 2014

Catatan Awal Akhir

Ada yang tak pernah mampu dijelaskan oleh kata, kata kita.
Ada yang tak bisa diungkapkan dengan tawa walau tampak sempurna.
Atau hanya sebuah air mata. Yang seperti mampu menjelaskan semuanya, namun tak satupun mampu kau pahami maknanya.

Aku pernah berada di sana. Jauh dari rasa kecewa. Hingga kamu hadir dan mengacaukan semuanya. Kalau kau pikir ini tentang cinta, aku sudah tak mampu menjelaskannya. Kalau kau pikir ini tentang rasa percaya, aku sudah bukan lagi pemilik daya. Kalau kau pikir ini tentang harga diri dan apa yang dianggap manusia begitu hakiki, aku sudah tak peduli.

 Pernah berada pada masa tersulit? Aku masih mencari jawabannya.

Noor Aprilia
15 Juli 2014
























Jumat, 14 Februari 2014

Dan Cinta Pun Terdiam, Dalam Bising Kata-Kata

(pemetikluka.wordpress.com)

Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, entah apa, aku lupa sebelum mengatakannya.
Ada yang ingin kubisikkan ke telingamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum angin senja menerbangkan kata-kata.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum cinta memberiku luka.
Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, ada yg ingin kubisikkan kepadamu, ada yang ingin kukatakan kepadamu, sekali saja, entah apa, aku lupa.
Mungkin, dengan diam, aku telah mengatakan segalanya, mengatakan segala yang tak ingin kukatakan kepadamu, sebelum cinta memberikan kita diam yang paling bisu.
Aku ingin diam, dalam bising kata-kata.
Aku ingin diam, untuk cinta yang tak bisa tinggal diam.
Aku ingin diam, untuk perasaan-perasaan kita yang tak bisa didiamkan kata-kata.
Dan cinta pun mendiamkan kita, dalam bising kata-kata.

Rabu, 16 Mei 2012

Sweet Traveling

Malang, Jawa Timur

"Life is a journey that is only traveled once. Today's moments quickly become tomorrow's memory". 

Kata-kata itu membawa pikiran dan tubuh saya melampaui batas perjalanan yang pernah saya tempuh dalam hidup saya sejauh ini. Jika dalam dua puluh dua tahun ke belakang saya memiliki banyak waktu untuk bersama keluarga maupun orang-orang terdekat, satu tahun terakhir ini situasinya menjadi sangat berbeda. Saya tinggal dan dibesarkan oleh kakek saya yang sangat demokratis, bisa dikatakan cukup menghargai feminisme :) Walaupun saya adalah satu-satunya anak perempuan di rumah, beliau tidak pernah melarang apapun pilihan yang saya ambil. Kemanapun saya pergi, oleh siapapun, selama saya melakukannya dengan penuh tanggung jawab.  Travelling serta berbagai kegiatan yang bersentuhan dengan perjalanan dan keindahan alam menjadi salah satu konsepsi kebahagiaan bagi saya. Kakek saya pun menjadi orang yang sangat berpengaruh dan paling bertanggungjawab untuk hobi saya itu. Sejak kecil, saya sering menghabiskan waktu bersamanya, menemani ia menyetir melintasi berbagai kota, sawah, gunung, sampai pelosok desa yang membuat signal handphone saya SOS! Karena itulah perjalanan melintasi pedesaan menjadi begitu menarik bagi saya sampai dengan saat ini.

Di Belakang Kursi, Di Samping Jendela

Beberapa waktu lalu saya baru ngeh kalau akhir-akhir ini saya sedang menjalani yang namanya... perjalanan hidup alias life journey. Banyak kejadian-kejadian seru yang berhubungan dengan alam.Perjalanan kali ini benar-benar "perjalanan" dengan makna denotatif *buka KBBI hihihi.. Perjalanan tunggal saya, saya awali pada akhir tahun 2011, pada saat saya melakukan perjalanan dinas ke Surabaya, Jawa Timur. Perjalanan itu memberikan pengalaman pertama bagi saya menaiki pesawat seorang diri! hehe :) Dan hari itu saya menjadi nampak begitu bodoh.. :P

Surabaya menjadi terlihat sangaaaaaattt cantik, setelah sekian tahun dalam hidup saya habiskan di Ibu Kota.  Prinsip nomaden, berburu dan meramu pun kembali saya terapkan. hehe.. Kali ini tema-nya adalah nomaden dari satu hotel ke hotel lain, satu penginapan ke penginapan lain, bahkan beberapa kost teman dan tumpangan gratis tak luput menjadi sasaran. Berburu tempat-tempat baru yang menyajikan suasana baru menjadi kegiatan yang tak pernah saya lewatkan untuk diabadikan. Meramu kulineria khas Jawa Timur yang bernuansa gurih-asin membuat saya semakin berniat bulat untuk lebih membulatkan tubuh saya :P

Yang jelas saya sadari saat ini adalah : Tuhan sedang membolak-balikkan hidup saya..Ya, saya rasa kaimat itu tepat untuk menggambarkan isi hati dan apa yang saya alami akhir-akhir ini.


Banyak situasi yang belum pernah saya alami, dan mau tidak mau harus saya hadapi. Salah satunya yang terhebat efeknya bagi hati saya adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar saya dalam hitungan bulan yang terasa seperti bertahun-tahun *tsah! Berpisah dengan kakek & kedua saudara laki-laki saya juga menjadi hal yang baru saya alami belakangan ini. Efek rindunya terkadang mematikan kawan.. :)

Di setiap perjalanan, hal paling dramatis favorit saya adalah ketika saya dapat menyembunyikan diri di belakang kursi penumpang di hadapan saya, serta wajah saya tepat berada di samping jendela, hingga saya bisa meninggalkan embun di kacanya. Membiarkan pandangan saya dibawa lari oleh laju kendaraan pun menjadi sensasi tersendiri di setiap perjalanan yang saya alami. Kota Jogja, Semarang, Malang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, hingga Bali menjadi rute perjalanan saya yang ngga mungkin bisa saya lupakan begitu saja. Semua perjalanan itu menjadi kenangan manis yang pernah saya alami, rasakan, dan renungi maknanya. Jauh di luar hiruk-pikuk & ruwetnya lalu lintas, riuhnya suara klakson dan kenek bus kota, sesaknya asap bus kota, saya begitu khusyuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang damai dan menyejukkan :). Saat-saat ketika saya berbincang dan berinteraksi dengan masyarakat setempat juga menjadi moment berharga yang maknanya begitu dalam.. Tak banyak yang bisa saya ungkapkan dari setiap perjalanan itu. Saya menimbunnya dalam sebuah memori yang masih saya bebaskan quotanya :)
Tanjung Papuma, Jember


Teluk Karang Asem, Gilimanuk, Bali


Tugu, Yogyakarta

Candi Prambanan, Jawa Tengah



Malang, Jawa Timur










Rabu, 04 April 2012

Dinamika Pasca Kuliah


Sudah cukup lama saya tidak menulis sepenggal cerita bertema seperti biasanya. Banyak cerita yang nampaknya terlewat untuk diceritakan, dan hanya saya simpan di dalam memori untuk suatu saat saya buka lagi, termasuk cerita di tulisan saya kali ini.

Masa kuliah, menjadi masa terbaik & terindah bagi saya, tanpa mengurangi makna dari masa-masa yang lain dalam hidup saya. banyak dari kita yang memersepsikan berbeda. Menjalani dengan cara yg berbeda pula. Masa terbaik bagi saya adalah masa di mana saya begitu menikmati kebebasan. Kebebasan berekspresi, berargumentasi, berdialektika, bebas menentukan pilihan sikap dan peran saya.

Ya,.menjadi mahasiswa, adalah berkah terindah bagi saya. Nikmat yang sepatutnya saya syukuri sepanjang hidup saya. Melalui masa itu, saya paham betul maknanya menikmati proses. Apa yang telah saya capai, tak lepas dari peran orang-orang di sekitar saya. Dosen-dosen, sahabat, bahkan Umi penjual minuman ringan di kantin :)

Berorganisasi menjadi bagian dari sepenggal cerita saya, di kampus yg penuh intrik itu. Kemampuan berpikir logis, menghidupkan nurani dibanding naluri, pengambilan keputusan sampai strategi perang intelektual, menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Terlalu menarik kawan. ^.^




Banyak kawan saya yang bingung, berbagai aktivitas & pencapaian saya di dalam organisasi dianggap tidak memengaruhi pencapaian prestasi akademik saya. Saya pastikan, itu hanya masalah bagaimana kita menikmati proses! Tak perlu terlalu ambisius, tidak juga pesimistis. Nikmati prosesnya dengan optimis dan yakin akan kemampuan diri sendiri. Penghargaan kita terhadap diri kita menjadi bagian penting dalam pencapaian hidup kita..daan...Abracadabra....! Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya di akhir perkuliahan menembus angka 3.93,
tanpa harus berkacamata & membawa buku kesana kemari.

Penghargaan sebagai lulusan dengan prestasi akademik & organisasi terbaik di wisuda semester genap TA 2010/2011 hanyalah sebuah apresiasi dari proses yang selama ini saya lalui. Kemilau penghargaan-penghargaan itu, bagi saya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang saya nikmati selama melalui proses 4 tahun tanpa harus pusing memikirkan pencapaian & apresiasi.

Adakah hal yang lebih baik dari pada menikmati proses setiap penggal hidup kita? saya rasa itulah yang saya sebut dengan kebahagiaan (happiness). Merasa bahagia adalah merasakan hidup yang sebenar-benarnya. Saat ini. Sekarang. Now! Present! bukan nanti, bukan saat saya meraih penghargaan, bukan saat angan-angan saya memiliki bisnis yang sukses tercapai, bukan saat saya memiliki kapal pesiar, rumah mewah, mobil dua pintu, dll, tapi sekarang juga.

Momentum wisuda dengan berbagai kemegahan atribut dan simbol-simbolnya kala itu membuat saya berpikir sejenak.. bahkan saya sendiri kurang paham makna prosesi itu. Bagi saya, wisuda yang saya lalui adalah sebuah momen untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari 'kebahagiaan' saya selama ini. Selepas wisuda, saya cukup tertegun dengan segala hal di balik toga & topi berbuntut aneh itu. Kehidupan semakin banyak menyediakan warna & nuansanya masing-masing. So, what's your colour?



Memasuki dunia kerja menjadi saat-saat yang sangat menguras adrenalin. hehehe..

Rasanya seperti dilontarkan wahana Tornado ke titik paling tinggi lalu berharap menjadi slow motion moment saat dihentakkan turun ke bawah :P tapi sayangnya slow motion itu tak pernah terjadi. hahaha... *sial.. semua terjadi begitu cepat. mendebarkan. menantang. menyenangkan. Dunia baru itu tidak hadir dengan sendirinya. Kita yang menciptakan. Kita yang memutuskan. Bayangkan, ketika kalian merencanakan dan memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan ke DuFan, Ancol. Saya yakin, di sana bukan tempat yang tepat untuk bersantai & menikmati pemandangan dengan belaian angin yang lembut dan pemandangan yang cantik sejauh mata memandang! yang ada hanya teriakan cempreng di sana sini, riuhnya orang-orang menertawakan kawannya sendiri yang sedang ketakutan, dan lain sebagainya. Mereka memutuskan untuk menantang adrenalin mereka sendiri.. dan mereka Bahagia!That's the point!
:)

Saat ini saya bekerja sebagai Transformational & Technical Marketing Coordinator di sebuah perusahaan produsen semen multinasional. Berawal dari magang di divisi Brand Compliance demi memenuhi mata kuliah magang, saya meneruskan skripsi dengan tema IMC (Integrated Marketing Communications) di perusahaan tersebut. Sampai pada saat saya mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi Marketing & Innovation Trainee, dan gagal di tahap ke 8 dari 9 tahap seleksi yang ada.

Kegagalan menjadi pengalaman yang berharga bagi saya kala itu. Banyak pelajaran & pembenahan yang saya lakukan. Saya tidak berhenti. Memutuskan untuk membangun Dara Puspita Catering sebagai usaha mandiri menjadi keputusan yang tepat saat itu. Bersama pacar saya & orang tuanya *salah satu strategi mengambil hati orang tua pacar hehe :P kami mulai merintis usaha catering tersebut. Alhamdulillah cukup banyak order & testimoni.

Di tengah-tengah keasyikan saya mengurus Catering, saya dipanggil untuk interview oleh seorang kawan yang merekomendasikan saya kepada Manager Transformational & Technical Marketing di perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Tak ada salahnya, saya mencoba datang dan menerima tawaran yang diberikan. 3 bulan pertama menjadi masa-masa terberat bagi saya. Tak jarang saya berpikir bahwa apa yang saya kerjakan bukanlah passion dan bidang saya. Bulan ke empat dan ke lima saya sudah merasa lebih tenang. Saya mulai bahagia menikmati prosesnya. Ditambah lagi, rekan-rekan kerja & atasan yang begitu mensupport saya, membuat saya paham bagaimana menikmati apapun pekerjaan yang sedang kita lakukan. All is well. Saya banyak belajar. Thank's Transformers!



Saat saya menulis tulisan saya ini, tinggal tersisa dua bulan bagi saya bersama rekan-rekan saya di divisi Tranformational. Pak Ivano, Manager yang Maximizer, Pak Dian, Danny, Kak reni, Pak Kuncoro, Om Willy, Pak Joan, Mba Gin, Pak Sandi, Mba Piping, Pak Alfizon, Kak Lisna, Pak Wayan, Aar, Maya, Ading...aaaaaahh...rasanya terlalu panjang untuk saya sebutkan satu persatu.. mereka semua telah memberikan warna baru dalam hidup saya. Terima kasih. :)

Selepas dari Transfomational, saya dipromosikan oleh Manager saya untuk "kembali ke alam" saya.hehe :) Beliau begitu mensupport saya untuk dapat mengembangkan diri di bidang yang telah saya pelajari selama duduk di bangku kuliah, yaitu Komunikasi & Branding. Divisi Brand Activation akan menjadi wahana saya selanjutnya! \^o^/


Berbuatlah sekecil-kecilnya. Daripada tidak berbuat sama sekali.
Belajarlah, dan rencanakan untuk menciptakan peluang.
Tidak hanya menjadi pengikut negeri orang.

Selamat berjuang kawan! Jangan biarkan adrenalin kalian terhenti! Terus berkarya & jadilah manusia yang bermanfaat untuk orang lain, tanpa mengorbankan kebahagiaan pribadi! :)


Jakarta, 8 April 2012
Noor Aprilia Puspitasari.


Sabtu, 19 November 2011

Antara Mercy dan Taksi

4 November 2011

Malam itu menjadi malam yang panjang dan sedikit "semprul" untuk sebuah perjalanan dinas yang seharusnya bisa nampak lebih keren.

Perjalanan dinas (business trip) saya dari Surabaya kali ini akan segera berakhir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sepanjang jalan menuju Bandara Juanda pun tidak semudah dan seindah yang saya bayangkan. Surabaya, layaknya Ibu Kota, teryata memang identik dengan realita macetnya, walaupun tidak se'laknat' Ibu Kota tujuan saya pulang kali ini.
Pukul 19.45, saya seharusnya sudah duduk manis di pesawat sambil sesekali mengamati bulu mata para pramugari yang bersliweran di kabin. Tapi itu kan idealnya...tenang..kali ini saya tidak akan menceritakan sesuatu yang ideal & normal. hehe.. kenyataannya, saya masih duduk di ruang tunggu pesawat sambil terpana menonton aksi panggung Agnes Monica di TV kecil di sudut ruang tunggu pesawat. Pemberitahuan tentang keterlambatan pesawat (delay) dari petugas bandara sudah beberapa kali terdengar dan membuat sebagian calon penumpang resah dan gelisah. Ahh..ekspektasi mereka terlalu tinggi pada pesawat belabelkan lambang negeri ini.

30 menit berlalu. Saatnya memasuki pesawat. Ritual mengamati bulu mata para pramugari pun dimulai. :) Saya suka dengan
cara berdandan para pramugari. Cukup elegan walau terkadang nampak seperti atlet angkat beban saat mereka membantu menaikkan barang & koper para penumpang ke bagasi di kabin pesawat. Yak...15 menit kemudian, pesawat pun mulai take off. Perjalanan di udara ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Kurang lebih saya sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 22.00.

Di pintu keluar terminal kedatangan bandara berharap ada yang mengangkat-angkat banner bertuliskan "Miss Noor Aprilia" haha... ternyata itu hanya khayalan (yaiyaalah! ngayal!) -__-
Ahh..bus Damri sepertinya sudah tidak bersahabat sodara-sodara. Alhasil saya agak planga-plongo di tengah keramaian. Namun, sadar ada seorang calo taksi yang memerhatikan saya dan sudah mengamati saya dari kejauhan dengan tajam seperti melihat tulang (berarti dia guk2 dong? hehehe), saya langsung berlagak sotoy mendekat ke arah keramaian orang yang sedang mengantri tiket taksi resmi.

"Mbak, pulang ke mana? 150rb aja, jauh-dekat"

(buset..dikira angkot, jauh-dekat 2 rebu!?)
Calo itu terus mendekat dan sedikit agresif menawarkan taksi pada saya. Dia terus membuntuti, bahkan saat saya mulai mendekati pintu toilet pun dia tak juga gentar & patah arang.. :P
Dari kejauhan, saya melihat kawan satu kantor saya yang sedang mengantri giliran mendapatkan taksi. Saya mendekat dan berusaha menyapanya di antara keramaian orang di sekitarnya. Saya sempat meminta saran padanya apa alternatif lain untuk pulang tanpa harus menunggu lama antrian taksi yang panjang itu, dan ia menyarankan, karena ini adalah business trip, saya berhak naik taksi executive bercat hitam yang argonya dimulai dari angka Rp15rb :)

"Mbak...kenapa mbak, kok ga mau naik taksi saya? Ga percayaaa...ga percayaaa.... ga percaya ya mba...?! ga bakal ditipu mba! takut amat..."

Wuiih...suara itu membuat darah saya langsung naik poll! Emosi pun tersulut.
Tak pelak, nada sopran saya khusus saya keluarkan untuk mahluk-mahluk yang ga sopan seperti dia!

"Woyy! Masalah lo apa mas! Terserah gw lah mau percaya sama siapa!! Mau nyari ribut lo!?"

Suara saya memang sempat menarik perhatian orang-orang di sekitar, namun 5 detik kemudian, saya bergegas sambil emosi meminta orang yang mengatur giliran taksi untuk mencarikan taksi eksekutif sesegera mungkin. Calo taksi itupun mulai menciut nyalinya. Perlahan ia hilang di keramaian,. Huh, tapi emosi saya masih belum hilang. Setelah mendapatkan tiket taksi dengan charge 8ribu rupiah, saya bergegas naik tanpa pikir panjang.

"Selamat malam.... boleh tau kita ke arah mana Mba?"
Sapa supir taksi dengan mobil Mercy nya sambil mulai menyalakan argo.
Astaga... saya baru sadar..saya naik taksi eksekutif kah??! Haduuh....Sial...gara2 calo sialan itu, saya ga sadar terbawa emosi tanpa pikir panjang, naik taksi eksekutif tanpa membawa voucher taksi dan uang di dompet yang hanya tinggal 4 lembar seratus ribuan. Tapi ya sudahlah ya... brangkaaaat...! :)

Perbincangan kecil sepanjang jalan tol pun di mulai. Dari mulai bertanya bagaimana Bapak supir taksi memulai kariernya, hingga ia menjadi supir taksi eksekutif itu. Mata saya menyisir hampir ke seluruh bagian mobil. Kursi yang luas, empuk..hihi.. dan berakhir di mesin credit card di hadapan saya.

"Alamak....mesin credit card yak... kalau sampai Cinere, kira2 bakal ngabisin berapa lembar duit gw ya??" (gumam saya dalam hati)

Mata saya tertuju ke arah argo yang sudah bertengger di angka Rp150ribu! Padahal baru 10 menit perjalanan keluar bandara menuju tol. Saya pun mulai panik... #eeaa
Berpikir......berpikir.....dan saya ha
rus bersiasat agar saya bisa melanjutkan perjalanan pulang tanpa harus bangkrut dan jadi gembel sesampainya di rumah.

Dan saya pun mulai menelpon salah satu kawan dekat saya, Asty. Kira-kira begini perbincangan aneh diantara kami di tlp malam itu.

Saya: "Halo..ty! jadi gimana ni? gw tunggu di mana, gw udah di tol ni, lewat Slipi..lw mau ketemu dmn?"
Asty: " Halo...?? ta...?? ta..? apaan si ta?? halo...? eh..ih..apaan si? lu ngomngin apaan si ta??"
Saya: "Oooh...yaudah..gw turun di halte Peninsula ya..ga peke lama ya..sip!"
Asty:"..............."

Argo saat itu sudah di angka Rp18orb dan saya semakin panik.
Akhirnya saya meminta supir taksi tersebut untuk menurunkan saya di halte depan Peninsula, Slipi dengan alasan saya akan bertemu kawan saya di sana. Perjalanan dengan taksi surga itu pun berakhir.

Setelah turun dari taksi, dan memastikan taksi itu telah menjauh dan hilang dari jarak pandang, saya langsung mencari taksi reguler bercat putih yang biasa saya tumpangi. Sambil cekikikan sendiri, saya kembali menelpon Asty dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tak pelak, asty pun tertawa tanpa henti, menyadari kelakuan saya yang konyol malam itu. Bahkan ia sempat mengira saya diculik! ahahah *maap ya asty...hihihi

Ahh....syukurlah...uang saya masih sisa 2 lembar. :)
Kejadian itu masih lekat betul di pikiran saya. Betapa dodol nya kelakuan saya malam itu. Tapi di lua semua itu, saya merasa senang karena berkesempatan untuk meenumpangi taksi eksekutif untuk pertama kalinya dalam hidup saya! hahaha... :)


Ternyata gitu toh rasanya.....ihihi.. :)



Jumat, 02 September 2011

Ada yang Salah dari Sebuah Istilah "Memaafkan & Melupakan"

Kamu pasti pernah mendengar istilah, "Lebih mudah memaafkan dibanding melupakan." Saya sendiri termasuk ke dalam "golongan" wanita yang pernah menggunakan istilah tersebut hanya untuk menunjukkan betapa memaafkan adalah hal yang mudah bagi kaum wanita, namun begitu sulit untuk melupakan pengalaman kurang menyenangkan yang pernah dialami. Pada kenyataannya, saya menyadari bahwa ada yang salah dari istilah tersebut. Karena yang sebenarnya adalah, kita tidak akan benar-benar bisa memaafkan kecuali kita mampu melupakan.

Memaafkan adalah tindakan toleransi untuk sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang yang nggak akan terjadi kalau kamu nggak bisa melupakan kejadian tersebut. Menolak lupa atas sebuah kejadian yang nggak menyenangkan akan menghasilkan ‘dendam’ atau sakit hati yang tertanam dalam hubunganmu dengan orang lain dan bisa berakibat merusak hubungan kalian. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Termasuk saya. Dan lihatlah, betapa sulitnya memilih untuk melupakan sebuah kejadian tidak menyenangkan yang pernah kita alami. Pada akhirnya maaf hanya sebuah kemunafikan dan kenaifan perempuan yang dijadikan alasan untuk merasa menjadi korban.

Walaupun menurutmu kamu telah mampu memaafkan, tapi ingatan atas tindakan seseorang yang tertinggal akan menciptakan pengaruh yang menghasilkan kurangnya rasa percaya. Itu normal. Namun demi Tuhan, rasa tidak percaya adalah perasaan yang sangat menyiksa, khususnya bagi kaum wanita yang pilihan sikapnya berangkat dari perasaan yang dalam.

Pengampunanlah yang sebenarnya memiliki unsur memaafkan dan melupakan. Dan hanya bisa dicapai dengan mengerti apa yang kamu rasakan begitu juga perasaan orang yang melukai hatimu, mengungkapkan apa yang kamu rasakan (dalam porsi rasional), dan memaklumi kalau hubungan kalian lebih penting dibanding siapa yang benar atau salah dan yang terakhir menerima setulus hati permintaan maaf. Lagi-lagi dibutuhkan pemakluman-pemakluman.

Penting untuk benar-benar memahami apa yang kamu rasakan untuk bisa memaafkan dan melupakan. Saat perasaanmu tersakiti yang lumrah terjadi adalah bereaksi keras, walau kamu sadar betul bahwa sebenarnya reaksi tersebut berdampak negatif bagi hubungan kalian. Meredakan amarah atau emosi yang bergejolak sebelum memberikan maaf akan membantumu untuk melupakan. Karena jika kamu langsung memberikan maaf sebelum memiliki kesempatan untuk mengeluarkan rasa frustasi, akan sangat sulit untukmu melupakan kesalahan yang pernah dilakukan.

Satu hal lagi yang penting adalah coba mengerti perasaan orang yang telah melukai hatimu. Coba bicarakan kenapa ia melakukan hal tersebut. Memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sisi yang berbeda akan membuatmu lebih mudah mengerti alasan hal tersebut mereka lakukan. Berikan dirimu sedikit waktu untuk mengatasi perasaanmu dan menurunkan emosi. Penting untuk menunggu sampai kamu dan dia siap untuk membahas apa yang terjadi dengan kepala dingin. Dan..ah...lagi-lagi saya masih terus belajar untuk bisa bersikap demikian. Seorang Sanguinis akan sangat kesulitan untuk menenangkan diri dan menurunkan level emosi hanya untuk sebuah pembicaraan yang solitif.

Aspek penting dalam memaafkan dan melupakan adalah menghargai hubunganmu dengan orang tersebut lebih tinggi dibanding apa yang kamu anggap benar. Kamu bisa saja benar, tapi menjadi pihak yang benar tidak akan seberharga hubungan yang kalian miliki.

Pada kenyataannya kamu nggak akan bisa benar-benar memaafkan jika kamu nggak bisa melupakan. Menolak lupa pada akhirnya menunjukkan kurangnya rasa percaya pada orang tersebut untuk tidak mengulangi hal yang sama..

Memaafkan dan melupakan adalah hal pribadi. Coba untuk memaafkan dengan dasar mengerti apa yang kamu rasakan dan dia rasakan, menurunkan emosi sebelum bereaksi, dan menghargai hubunganmu agar bisa benar-benar melupakan dan memaafkan serta menerima permintaan maaf dengan hati yang terbuka. Memang semua itu bukanlah perkara mudah, setiap kita memerlukan proses kematangan berpikir dan kemampuan mengendalikan diri. Semoga selalu ada kesempatan untuk belajar banyak hal dari sebuah kesalahan.